Archive for August, 2008

no fake freedom, no more

Thursday, August 21st, 2008

- - NO FAKE FREEDOM, NO MORE* - -

KariN

[August 17/2008]

 

I wish it just more than a wish… (Hope
we can make it happen. Together we can, if we believe, have great faith upon it
and do something!) 

 

No more afraid of tomorrow,

No more difficulty in era and cope the sorrow.

 

No more tears,

No more fears,

No more crimes,

No more corruption rhymes.

 

No more goofy bureaucracy,

No more piracy.

 

No more impractical demonstration,

No more poor education,

No more environmental devastation,

No more violation,

No more selfish medication,

No more humiliation.

 

To be free is to feel free,

To feel that we can always be free,

To be and to feel…

 

Free from social, political and environmental worry,

Free from poverty.

Free to fulfill our daily necessity,

Free to enjoy and be a sustainably happy.

 

Free in diversity.

Free in equality.

Free in prosperity.

 

Independence.

It’s more than a declaration,

It’s more that just a bunch of celebration,

It’s more than ceremonial procession,

It’s all about nationalism and innovation,

It’s about passion and devotion to our dearest and beloved nation.

Indonesia.

 

————————————————**————————————————-

Dedicated as my small
contribution in celebrating the 63th Independence Day and 100
years National Awakening of Indonesian. 

My Green Light for a Green Life

Monday, August 11th, 2008

What
happen to me, what happen to us, what happen to our home, what happen
to our planet?

What
is happening to the world?

Beside
poverty and terrorism, now we face another form of ‘crime’ called
GW. GW stands for global warming. It is so called crime as GW can
make poor people poorer and threat people life. In short, the global
warming is caused by the green house effects that decreasing the
average temperature of planet earth and slowly but sure destructing
metabolism of our planet. GW is a so called worldwide plague that
brings inconvenient truth to the human race. The truth that our
planet is seriously ill and the fact that we, people, are actually
the main actor that should be blamed for our
irresponsible-behavior-back then. It is a crime the way some people
mistreat their environment. In the name of economy, in the name of
prosperity, and in the name of short-time-profit, we take a lot of
advantages from our beloved mother earth. Industry and technology
bring easiness in human life, indeed we need them. Electricity and
efficiency give a lot of benefits for us, it’s so damn true. But,
sometimes (but too often) people simply forget how to manage all
those innovations and use every part of the gifts given by the planet
earth wisely. Pollutions and environment destructions are created by
human. We have done a lot of nature corruptions. Natural disasters,
unfriendly weathers, starvation, or destructive warming around the
globe… No more please. It’s not (only) about saving the
environment or in wider perspective our planet, but also deals with
saving our own life; we, human!

I’m
so much relief that I’ve got my wake up call soon. I’m so worry
that my-child-and-my-grand-children-to-be would not be able to enjoy
their right of living in a ‘healthy planet’. I’m so much
useless if I just keep silence about it and do nothing. I’m so much
aware that no-action-talking-only is no use. I’m so helpless if I
just keep crying and never act even a thing. Napoleon Hill says “If
you cannot do great things, do small things in a great way”. That’s
why I decided to take a little action by never stop questioning about
any things related to the GW issues and learning more and more to
find the answer. That’s why I decided to stay connected and
committed to earth and humanity as much as possible, as positive as I
can. That’s why I decided to start a little step every day for
getting more and more clue about GW while keep consisting to do small
things for this big planet and for the future. As Malcolm X believed,
“The future belongs to those who prepare for it today”. Well
guys, I just started it  

*[KariN
for planet/earth, August 2008]

Ku Tlah Jatuh Cinta… lagi.

Monday, August 11th, 2008

Yeah,
I’m falling in love again, totally
,
ever and forever.

Dia
begitu indah, dia begitu menyenangkan, dia begitu menenangkan, hmm,
dia begitu sempurna. Karena dia begitu mencintaiku, dengan tepat,
dengan murni. Dengan indahnya. Dan hebatnya, semua itu dia berikan
tanpa perlu aku minta. Dan, oleh karenanya aku juga begitu
mencintainya. Selamanya.

 

Siapakah
dia?

Sebenarnya
selama ini dia berada di dekatku, tidak begitu dekat namun tidak
terlalu jauh. Butuh waktu yang agak cukup lama untuk menyadari
perasaan ini. Dan butuh waktu yang cukup lama dan melelahkan untuk
dapat ‘menyentuhnya’ kembali dan merasakan aroma serta
kekhasannya. Mungkin karena selama ini, aku terlalu asik dengan
rutinitas dan kepenatan diri terasing di kehidupan urban hingga
membuat segala sesuatu tentang dirinya agak terabaikan.

Sampai
akhirnya, suatu ketika aku benar-benar jenuh dengan semua kepenatan
kehidupan dan memutuskan untuk take
a break

dan pergi sejenak untuk mencari dia, dia yang kini tlah membuat aku
terlena dalam merasakan keindahan dirinya.

Sungguh
ajaib, betapa aku bisa lupa akan segala kepenatanku di ‘dunia
nyata’ ketika aku menghabiskan waktu bersama dia, just
spent great times enjoying life
.

Hanya
dengan bersamanya, aku bisa merasa sejuk, bahkan terkadang merasakan
dingin dan panas dalam kesinambungan rasa yang penuh harmoni. Dia
dengan segala keindahannya memberikan aku hembusan udara yang penuh
cinta, sentuhan lembut yang penuh kemurnian, dan pemberian sensasi
rasa yang begitu tulus.

 

Siapakah
dia?

Aku
yakin, semua orang kenal dia. Aku rasa kau juga akan jatuh cinta
kepadanya bila kau bertemu langsung dengannya. Karena dia mampu
memberi dirimu segala isi dirinya untuk dirimu, inside
out
.
Though,
it seems out of reach for some (busy) person, but no need to worry,
it’s free of charge.

Yeah, cinta yang benar-benar tulus dan tanpa pamrih, don’t
cost you a thing
,
akan dia berikan kepadamu, tanpa perlu repot-repot kau meminta. Hanya
1 kuncinya, datang dan rasakan.  Karena dia adalah satu. Karena dia
hanyalah satu. Karena dia adalah… alam Indonesia. Dengan segala
kekayaan dirinya, kemurnian dan keindahannya tlah membuat aku jatuh
cinta, lagi dan lagi kepadanya.

Ku
tlah jatuh cinta kepadanya, dalam arti sesungguhnya. Ku benar-benar
jatuh hati kepadanya. Sepertinya memang begitu adanya, hingga mampu
membuat aku bertahan dalam lelah untuk berjalan penuh peluh dan
mendaki berkilometer-kilometer jauhnya hanya untuk bertemu dengannya
dan merasakan kesejukan nafasnya di ketinggian sana.

Ku
tlah jatuh cinta kepadanya, benar-benar jatuh cinta. Sepertinya
memang begitu adanya, karena rasa itu telah mampu membuat aku menahan
panas terik berjam-jam lamanya tanpa lindungan sunblock
hanya
demi bertemu dengannya dan menikmati desiran ombak jiwanya yang basah
di kedalaman sana.

Entah
di pegunungan ataupun di lautan, di ketinggian maupun di kedalaman
bawah sana, apapun bentuknya dia tlah benar-benar membuat aku jatuh
hati padanya, jatuh cinta yang nyata dengan kesempurnaan alam
Indonesia. Aku cinta Indonesia… terimakasihku hanya tuk
Indonesia’ku 

 

*[KariN
for BumiIndonesia, July 2008]

10 things i’ll miss d most frOM sOLO

Monday, August 11th, 2008

 

Suatu
ketika, a friend of mine, seorang kawan bertanya kepadaku “eh,
enakan mana di Jakarta apa di Solo?”. Lalu aku bilang “yah,
masing2 punya kelebihannya sendiri”.

I
love these two cities, indeed!

 

Well,
speaking about the town, I had my own idea about the state of being
comfort in a city. Apa yang bikin aku nyaman jelas bisa bikin aku
ngerasa kangen.

So,
I think I should tell you about my state of mind upon one of my
favorite cities in Indonesia, namely Solo.

 

 

 

 

 

Ten
things I’ll miss the most from SOLO city
:

 

  1. The
    FOOD

    Nggak tahu kenapa,
ketika inget Solo, hal pertama yang terlintas di kepala’ku adalah
“semar mendem, sego kucing, nasi liwet, tempe gembus, jenang,
selat, baso kalirangan, sate buntel, tengkleng, dawet, timlo, HIK,
dkk…” hehehe. Bukannya karena doyan banget ma makanan, tapi
simply just because the food in this town were totally great! Esp.
makanan khas tradisionalnya. P.S: Great here refers to “enak dan
murah meriAH euy, yakin” 

    Aku jadi inget, dulu
waktu aku baru jadi mahasiswi, aku “seneng dan sering” banget
“maen” ke dua kantin sastra

    FYI, sastra punya 2
kantin, yang di bawah ataupun yang di atas) sampai aku jadi lumayan
dikenal di 2 tempat tersebut, selama aku jadi mahasiswi UNS, hehehe.

  1. The
    CROWD

    Masyarakat Solo tuh
mostly ramah-ramah, tapi bukan rajin menjamah lho, ramah aka friendly
beneran. Orang-orang Solo masih pada murah senyum, baek-baek, dan
sopan sekian. Terutama para tukang becak (khususnya kalau kita naik
becak mereka tanpa pake menawar ongkos, hehehe).   

  1. The
    AIR

    Meskipun akhir-akhir
ini, udara siang begitu panas, dan udara malam lumayan dingin walau
kadang-kadang juga bikin gerah, hawanya masih lumayan enak lah. Bau
udaranya Solo banget deh! ^^

  1. The
    SPOTS

You name it, dari mulai
yang tradisional ampe modern, semua ada di sini. Dari Kraton
(Kratonnya ajah ada dua, Kasunanan ma Mangkunegaran), Kalitan, Psr.
Klewer, Psr. Gede, Sriwedari, TBS, ampe City Walk, Mushro, Hailai,
Solo Grand Mall (SGM), PGS, BTC atau Solo Square, dan masih banyak
lagi..

    Di kota yang tidak
terlalu besar ini ada lumayan banyak tempat2 hangout gaul yang cukup
seru.

  1. The
    STREET

Nggak
pernah macet (kecuali di saat ada perayaan, karnaval budaya or
event-event tertentu semacam demonstrasi atau kirab massal).
Merupakan arena yang menyenangkan bagi para pengendara kendaraan
berban 2 atau beroda 4. Free traffic jams; guarantee, almost in every
time, every corner of street. Indahnya.   

FYI
nama atau judul Bis yang beredar di jalan Solo lumayan “bernama”,
tapi alur treknya kurang bervariasi, mungkin karena jalur jalannya
yah cuman itu-itu ajah, jadi gampang diinget! Tapi jangan harap bisa
menemukan bis yang masih “bernyawa” setelah magrib, karena
sebagian besar udah pada masuk kandang jam 6 sore.

Walaupun
rada sempit dan sering jadi multifungsi, tapi jalan-jalan di Solo
Raya jauh lebih ramah daripada jalan-jalan di JKT. Sayangnya kurang
pedestrian friendly.

 

  1. The
    MEMORIES

Lot
of stories, lot of memories, esp. for me =P… in almost every corner
in this cozy city.

 

  1. The
    BOLO-BOLO

Teman,
sahabat, sisters and brothers of mine, lot of them that I’m gonna
miss a lot. Big hug and kiss, kiss for them; my bolo-bolo in Solo,
hohoho. I miss u all guys!

  1. Bunch
    of Relatives

Yeah,
para anggota keluarga sedarah. Secara, kedua orangtua’ku merupakan
native of solo (aka. keduanya merupakan Solonese, except for my Dad
yang konon kabarnya masih rada bau-bau Belande, wuih, kompeni jauh,
hehehe). Jadi, intinya yah banyak banget sodara aku yang ada dan
berasal dari kota ini, dan pasti bakal bikin aku kangen deh.

  1. My
    Granny

Eyang
putri, Mbah putri aku seorang, yang kadang membuat
kemampuan-berkomunikasi-dalam-berbahasa-Jawa-aku-yang-lumayan-kaku-rada-wagu
ini jadi terpakai dan sedikit terasah.  I’ll gonna miss her so so
very much!! ><

  1. My
    CRIB 

Definitely,
I will miss my room so much. Or, sekarang lebih tepatnya my-ex-room.

Sebuah
kamar kecil di lantai atas… yang sodara-sodara aku menyebutnya
sebagai “omah-mu-kui-loh” (mereka udah ngganggep ruangan atas
searea sebagai “rumah pribadi aku” gitu, secara yang menguasainya
adalah aku.. hehehe).

Kamar
atas’ku, Loteng, balkon tempat aku memandang langit, bintang (dan
jemuran para tetangga, ops… :P)

 

Only
ten things, but absolutely I’ll miss them very so much!

 

Sebenernya
banyak banget hal yang bikin aku jatuh hati dan jadi cinta mati ma
kota Surakarta atau yang lebih beken dengan nama Solo ini, tapi
karena sangking banyaknya bisa-bisa malah jadi bikin aku kangen dan
sedih lagi. Secara aku sudah hidup mengembara di kota ini selama
setengah dasawarsa. So,daripada jadi sedih, mending udah dirangkum
ajah lah jadi 10 biji diatas. Yang enak2, yang bikin kangen, tentu
bakal bisa bikin aku balik lagi, someday, next time.

 

Solo
BERSERI.

Kota
Solo Kota Berbudaya,

Kota
Solo penuh memori dan sejarah untukku, it’s a wonderful city of
mine 

 

*[KariN,
July 2008]

Within (no) boundaries

Monday, August 11th, 2008

Why
I live in this body? She said. Why I have this feeling? He said. Why
God makes their life in such a different way? I said.

And
now, what will you say my friends? What will you see? What would you
say if you see them?

Udah
pernah nonton film ‘D’bijis’,
dimana ada salah satu karakter pria gagah perkasa nan kekar mantan
anggota band rock ternama berubah menjadi seorang waria?

Tahu
atau mungkin pernah nonton film ‘Realita,
Cinta dan Rock’n Roll

nggak? Di film itu, ada sosok ayah yang ‘berubah haluan’. Yup,
salah satu aktornya Om Berri Prima berperan menjadi sosok ‘mama’
yang cantik sekali di sini. Penjiwaan yang sungguh keren ^.^.

Atau
mungkin, udah pernah baca novel ‘Female
Undercover
’?
Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata. Novel ini berisi
kisah-kisah hasil investigasi penulisnya, yang merupakan seorang
perempuan yang ‘iseng-iseng nekat’ menjadi ‘seorang pria’
selama beberapa waktu.

Atau
pernah denger ada novel fiksi ‘Middlesex
yang bercerita tentang kehidupan seorang tokoh interseks, seorang
perempuan/laki-laki bernama Cal. Kayaknya banyak yang suka ma novel
ini, dan it
has been proved as a literally sounds terrific perfect
,
karena lewat novel ini sang penulisnya, Jeffrey E. menang Pulitzer
Award. So, mau lewat film, mau lewat buku atau novel, mau pake gaya
lokal atau manca, kayaknya semua tahu bahwa ‘kaum beda’ memang
ada dan esksis!

Sex
is between legs, gender is between ears
”,
kalimat yang merupakan sebuah pengakuan yang lugas dari seorang
transgender yang pernah tampil dalam salah satu episode Talkshow
Oprah. 

Yang
membuat pengakuan itu adalah seorang pria, seorang suami, seorang
ayah yang mengaku selama kurang lebih 48 tahun hidup di tubuh yang
salah, karena dia merasa dan yaking bahwa dirinya sejatinya adalah
seorang perempuan! Wow?! Yup,
he said that he lived in the ‘wrong body’ for years and he is
actually a she! Gee, what a shocking confession!

Transgender.
Akhir-akhir ini kata itu kerap muncul dalam beberapa episode hidup
aku. Sebenarnya dulu aku pernah denger sih, tapi baru ngeh’nya yah
akhir-akhir ini aja.

Tidak
seperti ‘trans-trans’ lainnya yang familiar di telingaku, seperti
translation, Bus Trans Jakarta atau TransTV :P, transgender ternyata
memiliki definisi yang cukup asing dan hmm,
for some people it sounds a lil bit extreme.

Transgender…
What the hell it means? I tried to look it in my dictionaries, but I
found nothing.

So
I decided to get to know more about it.

Sesaat
sebelum pengakuan dari
pria-yang-kini-wanita-namun-telah-hidup-sebagai-pria-selama-48tahun
itu dibuat, beberapa minggu sebelumnya ternyata udah ada pengakuan
awal lain. Saat itu, di salah satu episode Oprah Winfrey Show, ada
dua orang anak muda yang menjadi ‘the star of the show’. Kedua
kawula muda itu merupakan individu transgender. Mereka masih sangat
muda. Seorang anak laki-laki (yang dulunya perempuan) berumur 16
tahun dan seorang gadis (yang dulunya laki-laki) berumur 21 tahun.
Mereka tidak saling mengenal, mereka hidup dan tinggal di belahan
dunia yang berbeda, kesamaan mereka hanya satu; yaitu mereka berdua
telah bertransisi dari hakikat lahiriahnya atau dari ‘bentuk
kelahiran’ ke ‘bentuk panggilan jiwa’. Keduanya mengaku, mereka
telah merasakan kalau mereka ‘punya tubuh yang salah’ dan ingin
‘keluar’ dari tubuhnya diusia yang masih sangat muda, yakni
diumur 7 tahun! Setelah melalui banyak proses dan berbagai tahapan,
seperti penyangkalan, percobaan bunuh diri, penolakan dari
masyarakat, sampai akhirnya memiliki keyakinan utuh dan keberanian
untuk sepenuhnya berubah dengan melakukan berbagai rangkaian operasi
dan ritual medis, macam meminum hormon, dst, mereka akhirnya menjadi
bentuk dirinya yang sekarang. Kedua remaja Amerika tersebut merupakan
bukti nyata atau living
proof

dari keberadaan kaum minoritas bertajuk ‘transgender’. Dan
kemudian, pengakuan demi pengakuan lainnya, beragam pernyataan demi
pernyataan, cerita demi cerita dan ilustrasi demi ilustrasi pun
mengalir. Saat itu, aku menonton semua itu, sambil geleng-geleng
kepala dengan beragam ekspresi, dan berkata “kog bisa yah?” dan
“what a life!” berulang kali. Sebenarnya masih banyak cerita dan
kisah nyata lainnya, namun bayangan halaman yang makin banyak membuat
aku merasa semua yang dipaparkan kini telah cukup sebagai awal.

Gender
or Sex?

Traditionally,
gender has referred to grammatical classifications in languages that
have masculine, feminine, and neuter nouns; and sex has referred to
the biological classifications to which gender is analogous. For some
time, however, anthropologists have used gender to distinguish
cultural categories from biological ones (Gender roles are indistinct
among the young of this society; the two sexes play together
frequently). Cultural and biological categories are interrelated, of
course, and thus at times it can be difficult to decide which word is
more appropriate. Sex is for the most part to be preferred, except
where the word may be ambiguous (When you’re looking at résumés,
does sex matter to you?) and in idiomatic expressions such as gender
gap (“difference between the sexes”) and gender-bending (“the
blurring of distinctions between the sexes”).
Source:
Encarta
® World English Dictionary ©Microsoft Corporation.

Jadi,
transgender bukan masalah orientasi seksual, tapi lebih kepada
orientasi jati diri. Seperti yang dikatakan oleh salah satu individu
transgender, “Sex is between legs, gender is between ears”. Okeh,
okeh, I got the point Mam… aku mudheng kog ^.^

Menurutku,
Transgender <mungkin> dapat diartikan sebagai transisi gender,
perubahan dimana pelakunya atau individunya merasakan bahwa mereka
dilahirkan dalam bentuk fisik yang salah atau tidak pada tempatnya
dan tidak semestinya, karena sisi emosional dan psikologisnya
menyatakan, merasakan dan menunjukkan sebaliknya. In
short, for example, a man born in a physically women’s form or
body, while he psychotically and emotionally feels vice versa, in the
end he want to be transformed into a real concrete man.

Memang
fakta dan apa yang aku temukan saat itu (dan masih sampai saat ini)
sangat membingungkan, karena seperti kita ketahui, Tuhan hanya
menciptakan dua jenis manusia; laki-laki x perempuan, male x female,
masculine x feminine, jantan x betina. Tapi, kenyataannya sekarang
fakta dan dinamika dunia serta alur kehidupan yang makin
berwarna-warni membuat atau menciptakan jenis atau kaum dengan other
mainstreams

atau ‘mereka dengan jenis yang lain’. Kaum ini memang ‘sedikit
banyak berbeda’ dari dua jenis awal, mereka yang bukan laki-laki
atau perempuan by
nature
.
Mereka, yang dikenal masyarakat sebagai kelas khusus, dengan berbagai
label/ID seperti maaf… ‘bencong atau banci’, ‘waria’,
‘gay’, ‘lesbi’, ‘biseksual’ dan ‘hermaprodit aka
interseks (intersex)’. At
least, those are the ‘others’ that I know, so far.

Jujur,
ketika mengingat dan memikirkan topik ini, dalam pikiran aku sempat
terngiang-ngiang kalimat “gile bener, cowok jaman sekarang makin
parah ajah sih!” Ops, sorry guys. Tapi, howcome? Kenapa juga aku
bisa berpikiran kayak gitu? Well, karena setahu aku, atau dari banyak
kasus yang aku temui, sebagian besar, para tokoh atau para
pelakunya
adalah
kaum Adam! Misalnya, gay adalah para pria penyuka sesama jenis (yah,
jeruk makan jeruk gitu deh), bencong atau banci yaitu cowok yang
‘agak lemah gemulai atau rada feminim’, sementara waria merupakan
kependekan dari ‘wanita pria’ (yang merupakan pria yang <pengen>
jadi wanita). Mungkin hampir sama yah? Tapi, in
my opinion
,
mereka beda, karena secara fisik dan non-fisik mereka memang berbeda.
Sementara kelompok interseks yang aku tahu adalah para pria yang
lebih memilih atau lebih tepatnya lebih nyaman untuk condong menjadi
full
female

atow wanita seutuhnya, walaupun ada juga yang nggak masalah menjadi
keduanya (laki-laki dan perempuan). FYI interseks atow intersex
adalah those
people who biologically has male and female characteristics, or the
characteristics of both sexes
.
Jadi kelainan secara biologis anatomi dan kinerja tubuh lho. And
finally, para transgender yang pernah aku temui juga kebanyakan
berasal dari pemilik kromosom XX aka para lelaki. So,
tell me, what’s going with you boys! Because, it’s just not make
sense, sometimes
.
Maaf, tapi, itu adalah pernyataan spontan yang keluar dari mulut
seorang wanita. Mungkin karena merasa agak parno takut jadi makin
susah nemu cowok normal yang benar-benar 100% cowok, hehehe. Ops, no
sorry for being honest, no hard feeling yah buat kaum Adam, peace yo
guys  

Aku
normal, 100% ceweq ♀, or almost 100 lah :P, tapi aku sangat amat
yakin dan merasa kalo aku perempuan dan I’m
truly straight as a she.
Namun,
demikian, aku tidak pernah memandang mereka, yakni kaum yang berlabel
‘beda’ sebagai pribadi yang mengerikan ataupun aneh. Nggak bohong
kalo aku bilang bahwa aku nggak punya masalah dengan para
kaum-berlabel-beda macam yang aku sebutkan di atas. Aku punya
beberapa teman yang gay atau dkk, and I still
friends with them
,
karena aku percaya ‘person is person, no matter what they do’ dan
selama kita hidup, akan banyak hal berbeda yang muncul, tergantung
bagaimana kita menyikapinya dengan open
mind
,
solidaritas dan tepo
seliro
.

Apa
yang aku ungkapkan di sini, apa yang aku bagi, hanya semata-mata
sebagai bahan pembelajaran atas fenomena alam yang dipandang dari
sisi perspektif yang berbeda, in my perspective and based on several
scientific information. Tidak ada unsur atau niatan untuk memancing
kekeruhan, mengintimidasi, ataupun menghakimi. Harapan dari tulisanku
ini yang ada cuma satu saja, yakni kita menjadi lebih
tahu

dan menyadari
serta menghargai atau
menghormati bahwa
perbedaan dalam manusia itu akan selalu ada. Let’s appreciate our
difference and make the world much more colorful with it! 

Yeah,
that’s the fact.

Tidak,
dunia tidak gila! The
world is never being crazy!

Maybe
it’s just the creature(s) inside of it that does/do!

It
just maybe, because insanity is in people’s mind not in people’s
behaviors
.

Seperti
yang GIGI, salah satu band ternama di Indonesia, katakan “Peace,
Love and Respect
!”
  

Yup,
Kedamaian, Cinta & Kasih Sayang, dan Rasa Hormat &
Menghargai! That’s
all the matters for bringing difference in harmony.

*[KariN,
June 2008]

semoga cita-citanya kesampean deh

Monday, August 11th, 2008

semoga
cita-citamu tercapai….”

Semakin umur
bertambah, semakin waktu terlewati, semakin banyak hal yang
‘nyangkut’ di kepala, semakin banyak kegiatan, semakin banyak
masalah, tapi semakin sedikit pilihan. Apakah benar begitu adanya?

Tapi, diantaranya,
apakah masih ada 1?  SATU hal saja yang tetap, tak berubah?

Ketika itu, dulu
sekali, aku dan beberapa teman kuliah sedang berembuk,
ngobrol-ngobrol ngalor ngidul mengenai rencana pembuatan album
angkatan, mengingat masa studi yang kian mendekati ajal. Yeah, album
angkatan merupakan sebuah wadah wajib pemersatu tali ‘togetherness
jika kelak perpisahan dibarengi jarak langkah dan waktu membatasi
gerak gerik pertemanan kami.

So, then a bunch
of some frenzied youths called themselves a creative team decided to
share ideas and energies to make their little wish come true.

Maka disusunlah
beberapa hal, tugas +job description masing-masing dan format materi
untuk realisasi keinginan kami itu.

Tugas pertama adalah
collecting data (ribetnya udah kayak bikin skripsi ajah deh,
gaya amat, hehehe). Yup, 1st thing 1st,
ngumpulin data anak-anak 1 angkatan, untuk kemudian dibikin profil.

For us, profile
means brief information of a person in the class.

Lalu, suatu ketika
kami bertemu lagi, ngumpul-ngumpul lagi & aku meminta memasukkan
kata ‘cita-cita’ di dalam isian data profil untuk kemudian
diedarkan ke para sumber data aka teman-teman sekelas, beberapa orang
merasa hal itu tidak perlu. Dan lucunya, ketika aku tetap ngeyel
dan meminta beberapa teman memberitahukan cita-citanya dan
menyertakannya ke dalam isian profil mereka, sebagian besar tidak
bisa (atau tidak mau) menjawab atau mereka tidak tahu pasti dan
memberitahu cita-citanya apa. Nah lo?! Kog bisa yah? Dan akhirnya,
for some reasons, singkat cerita, dalam profile section, tidak
ada kata ‘cita-cita’.

Hal ini ternyata
cukup mengusik dan menggelitik sanubariku.

Apakah ketika kita
beranjak dewasa, dan umur semakin bertambah, cita-cita menjadi
terlupakan atau bahkan perlahan-lahan memudar?

Diksi ‘cita-cita’
yang aku maksud di sini mengacu kepada kata ‘cita-cita’ yang dulu
sering kita temui ketika kita masih ‘duduk’ di bangku sekolah;
esp. di TK, SD, SMP atow SMA. Ketika Bapak atau Ibu Guru bertanya
“apa cita-citamu nak?”, atau ketika seorang teman berkata “kamu
kalo udah gede pengin jadi apa?”. Lalu beragam jawaban pun
bermunculan, ada yang menjawab “Dokter”, “Polisi”, “Guru”,
“Astronot”, “Insinyur”, “Penyanyi”, bahkan tidak jarang
pula yang menjawab “Presiden”, serta berbagai macam profesi
sesuai minat masing-masing.

Aku sendiri dulu
sempat beberapa kali mengalami fase gonta-ganti cita-cita. Mulai dari
‘pengin jadi Pelukis’ di saat aku masih sekolah TK, karena aku
percaya banget saat itu lukisan aku yang sering dapet nilai 9 itu
merupakan maha karya yang wah (padahal lukisan model corat-coretan
Pablo Picasso masa bayi :P). Lalu pas di SD cita-citaku berganti
menjadi ‘astronot’ dan ‘dokter’.  Pas aku masuk SMP, aku
sempat berpikir dan mempunyai keinginan sesaat untuk menjadi
“pramuka”, karena saat itu aku terpesona setengah gila oleh aura
senior aku di eskul pramuka yang sumpah-keren-banget.. hehehe. Tapi,
akhirnya kata ‘dokter’ tetap merasuk di hati sampai SMA, dimana
aku memutuskan untuk masuk jurusan IPA. Tapi, akhirnya impian itu
kandas di tengah jalan, karena aku merasa tidak bakal ‘tahan dan
bisa muntah-muntah’ jika harus menangani hal-hal yang berbau ‘darah
dan jarum’ ketika mulai paham arti ilmu kedokteran yang
sesungguhnya. Crab!

So, then,
I’ve been dumped in Sastra Inggris! Tapi, sejak kecil, aku
memang senang bermain dengan ‘kata-kata’ dengan ‘bahasa’ dan
‘garam Inggris versi Sesame Street’, hehehe, jadi yah it’s
an almost perfect pit stop for me
. Namun, di masa-masa kuliah,
tidak ada lagi kata ‘cita-cita’ yang benar-benar dominan dan
nyata, tidak seperti masa-masa sekolah dulu. Misalnya ketika di SD
saat aku masih berangan-angan menjadi seorang astronot, aku membaca
begitu banyak buku yang berbau astronomi. Namun, hukum ‘cita-cita’
itu tiba-tiba mati suri dan tidak berlaku lagi, karena menjadi
mahasiswi ternyata menguras begitu banyak waktu dan energi; kuliah,
belajar, bersosialisasi, beradaptasi, berkarya, ber’gaul… etc.

Ketika aku bergabung
di divisi ‘Press aka Pers Mahasiswa’, aku pikir aku akan menyukai
ide menjadi seorang jurnalis. Namun, ketika masuk pertengahan
semester, aku mulai mengenal dunia radio dan penyiaran, aku
memutuskan bahwa aku akan menjadi seorang ‘Penyiar’ saja, well
that’s quite cool. Waktu berderu, hari pun berlalu, beragam
‘profesi’ singkat aku jabanin; mulai dari guru les, presenter,
reporter, penerjemah, narator, relawan, administrator internet, staff
administrasi, ampe jadi ghost writer lah, copy writer lah, customer
care lah, staff EO lah bahkan sampe nekat jadi produser teater (gila
dah)! Sampai-sampai udah kayak kernet metromini dikejar setoran,
hehehe, padahal asli cuman gara-gara pengin nyoba-nyoba ajah, atau
kadang-kadang dilandaasi sekedar niat membantu teman. Jadilah,
masa-masa sok-padat-karya datang silih berganti. Pernah ada suatu
masa ketika aku menjadi cewek yang
pagi-kuliah-atau-konsultasi-skripsi, lalu siang-kerja-magang, terus
sore-latihan-drama-&-sekaligus-pegang-kewajiban-jadi-produser,
kemudian rada-malem-istirahat-bentar, then
malem-siaran-ampe-tengah-malem. Wuih, serasa kayak kelinci yang pake
batu baterai full charged di iklan Energizer itu, huhuhu.

Kisi-kisi waktu,
haru, lelah, resah, inputs dan outputs bergantian
menganyam mengisi diri. Cerita cita perlahan mulai menepi dan
menyendiri… sampai akhirnya terhempas di ruang ICU.

Kini, cerita cita
mulai memberanikan diri untuk menampilkan hakikatnya…

“Aku sungguh tidak
mau lagi ‘heterogen’. Lelah. Aku sungguh tidak malu lagi untuk
menampilkan diri” begitu si cita-cita berkata.

Kini, aku mulai
menapaki segala kronologis yang telah usang, mulai menyaring potensi
diri, mulai mendengarkan kata hati dan menorehkan kata-kata ‘what
I want to be
…’ ralat, “what I really really want to be…”
di kompas jejak langkahku.

Kini, Aku tahu apa
itu. Aku punya cita-cita, yaitu aku mau menjadi: **** (confidential,
ah rahasia dunk! Hehehe)

Yang pasti aku
pengen punya profesi yang “if it’s to be, it’s up to me
dan pengeng jadi manusia sukses yang “energized by a love for
what I do because it brings me even closer to who I am
” Yang
pasti bisa jadi agent of change that brings kindness to others,
Amin…

Jadi, APA
CITA-CITAmu?

WHAT YOU WANT,
BABY?

WHAT DO YOU WANT
TO BE?

SO, WHAT DO YOU
WANT TO BE IN THIS LIFE? 

Ada sebuah pepatah
yang berkata: “LIFE CAN’T WAIT, SO DESIGN YOUR OWN LIFE!”

Hidup memang tidak
bisa menunggu, jadi mari jadi designer bagi diri dan merancang hidup
ini

Hidup memang sungguh
tidak bisa menunggu, jadi mari kita tahu apa yang kita mau ^.^

*[KariN, May 2008]