semoga cita-citanya kesampean deh

semoga
cita-citamu tercapai….”

Semakin umur
bertambah, semakin waktu terlewati, semakin banyak hal yang
‘nyangkut’ di kepala, semakin banyak kegiatan, semakin banyak
masalah, tapi semakin sedikit pilihan. Apakah benar begitu adanya?

Tapi, diantaranya,
apakah masih ada 1?  SATU hal saja yang tetap, tak berubah?

Ketika itu, dulu
sekali, aku dan beberapa teman kuliah sedang berembuk,
ngobrol-ngobrol ngalor ngidul mengenai rencana pembuatan album
angkatan, mengingat masa studi yang kian mendekati ajal. Yeah, album
angkatan merupakan sebuah wadah wajib pemersatu tali ‘togetherness
jika kelak perpisahan dibarengi jarak langkah dan waktu membatasi
gerak gerik pertemanan kami.

So, then a bunch
of some frenzied youths called themselves a creative team decided to
share ideas and energies to make their little wish come true.

Maka disusunlah
beberapa hal, tugas +job description masing-masing dan format materi
untuk realisasi keinginan kami itu.

Tugas pertama adalah
collecting data (ribetnya udah kayak bikin skripsi ajah deh,
gaya amat, hehehe). Yup, 1st thing 1st,
ngumpulin data anak-anak 1 angkatan, untuk kemudian dibikin profil.

For us, profile
means brief information of a person in the class.

Lalu, suatu ketika
kami bertemu lagi, ngumpul-ngumpul lagi & aku meminta memasukkan
kata ‘cita-cita’ di dalam isian data profil untuk kemudian
diedarkan ke para sumber data aka teman-teman sekelas, beberapa orang
merasa hal itu tidak perlu. Dan lucunya, ketika aku tetap ngeyel
dan meminta beberapa teman memberitahukan cita-citanya dan
menyertakannya ke dalam isian profil mereka, sebagian besar tidak
bisa (atau tidak mau) menjawab atau mereka tidak tahu pasti dan
memberitahu cita-citanya apa. Nah lo?! Kog bisa yah? Dan akhirnya,
for some reasons, singkat cerita, dalam profile section, tidak
ada kata ‘cita-cita’.

Hal ini ternyata
cukup mengusik dan menggelitik sanubariku.

Apakah ketika kita
beranjak dewasa, dan umur semakin bertambah, cita-cita menjadi
terlupakan atau bahkan perlahan-lahan memudar?

Diksi ‘cita-cita’
yang aku maksud di sini mengacu kepada kata ‘cita-cita’ yang dulu
sering kita temui ketika kita masih ‘duduk’ di bangku sekolah;
esp. di TK, SD, SMP atow SMA. Ketika Bapak atau Ibu Guru bertanya
“apa cita-citamu nak?”, atau ketika seorang teman berkata “kamu
kalo udah gede pengin jadi apa?”. Lalu beragam jawaban pun
bermunculan, ada yang menjawab “Dokter”, “Polisi”, “Guru”,
“Astronot”, “Insinyur”, “Penyanyi”, bahkan tidak jarang
pula yang menjawab “Presiden”, serta berbagai macam profesi
sesuai minat masing-masing.

Aku sendiri dulu
sempat beberapa kali mengalami fase gonta-ganti cita-cita. Mulai dari
‘pengin jadi Pelukis’ di saat aku masih sekolah TK, karena aku
percaya banget saat itu lukisan aku yang sering dapet nilai 9 itu
merupakan maha karya yang wah (padahal lukisan model corat-coretan
Pablo Picasso masa bayi :P). Lalu pas di SD cita-citaku berganti
menjadi ‘astronot’ dan ‘dokter’.  Pas aku masuk SMP, aku
sempat berpikir dan mempunyai keinginan sesaat untuk menjadi
“pramuka”, karena saat itu aku terpesona setengah gila oleh aura
senior aku di eskul pramuka yang sumpah-keren-banget.. hehehe. Tapi,
akhirnya kata ‘dokter’ tetap merasuk di hati sampai SMA, dimana
aku memutuskan untuk masuk jurusan IPA. Tapi, akhirnya impian itu
kandas di tengah jalan, karena aku merasa tidak bakal ‘tahan dan
bisa muntah-muntah’ jika harus menangani hal-hal yang berbau ‘darah
dan jarum’ ketika mulai paham arti ilmu kedokteran yang
sesungguhnya. Crab!

So, then,
I’ve been dumped in Sastra Inggris! Tapi, sejak kecil, aku
memang senang bermain dengan ‘kata-kata’ dengan ‘bahasa’ dan
‘garam Inggris versi Sesame Street’, hehehe, jadi yah it’s
an almost perfect pit stop for me
. Namun, di masa-masa kuliah,
tidak ada lagi kata ‘cita-cita’ yang benar-benar dominan dan
nyata, tidak seperti masa-masa sekolah dulu. Misalnya ketika di SD
saat aku masih berangan-angan menjadi seorang astronot, aku membaca
begitu banyak buku yang berbau astronomi. Namun, hukum ‘cita-cita’
itu tiba-tiba mati suri dan tidak berlaku lagi, karena menjadi
mahasiswi ternyata menguras begitu banyak waktu dan energi; kuliah,
belajar, bersosialisasi, beradaptasi, berkarya, ber’gaul… etc.

Ketika aku bergabung
di divisi ‘Press aka Pers Mahasiswa’, aku pikir aku akan menyukai
ide menjadi seorang jurnalis. Namun, ketika masuk pertengahan
semester, aku mulai mengenal dunia radio dan penyiaran, aku
memutuskan bahwa aku akan menjadi seorang ‘Penyiar’ saja, well
that’s quite cool. Waktu berderu, hari pun berlalu, beragam
‘profesi’ singkat aku jabanin; mulai dari guru les, presenter,
reporter, penerjemah, narator, relawan, administrator internet, staff
administrasi, ampe jadi ghost writer lah, copy writer lah, customer
care lah, staff EO lah bahkan sampe nekat jadi produser teater (gila
dah)! Sampai-sampai udah kayak kernet metromini dikejar setoran,
hehehe, padahal asli cuman gara-gara pengin nyoba-nyoba ajah, atau
kadang-kadang dilandaasi sekedar niat membantu teman. Jadilah,
masa-masa sok-padat-karya datang silih berganti. Pernah ada suatu
masa ketika aku menjadi cewek yang
pagi-kuliah-atau-konsultasi-skripsi, lalu siang-kerja-magang, terus
sore-latihan-drama-&-sekaligus-pegang-kewajiban-jadi-produser,
kemudian rada-malem-istirahat-bentar, then
malem-siaran-ampe-tengah-malem. Wuih, serasa kayak kelinci yang pake
batu baterai full charged di iklan Energizer itu, huhuhu.

Kisi-kisi waktu,
haru, lelah, resah, inputs dan outputs bergantian
menganyam mengisi diri. Cerita cita perlahan mulai menepi dan
menyendiri… sampai akhirnya terhempas di ruang ICU.

Kini, cerita cita
mulai memberanikan diri untuk menampilkan hakikatnya…

“Aku sungguh tidak
mau lagi ‘heterogen’. Lelah. Aku sungguh tidak malu lagi untuk
menampilkan diri” begitu si cita-cita berkata.

Kini, aku mulai
menapaki segala kronologis yang telah usang, mulai menyaring potensi
diri, mulai mendengarkan kata hati dan menorehkan kata-kata ‘what
I want to be
…’ ralat, “what I really really want to be…”
di kompas jejak langkahku.

Kini, Aku tahu apa
itu. Aku punya cita-cita, yaitu aku mau menjadi: **** (confidential,
ah rahasia dunk! Hehehe)

Yang pasti aku
pengen punya profesi yang “if it’s to be, it’s up to me
dan pengeng jadi manusia sukses yang “energized by a love for
what I do because it brings me even closer to who I am
” Yang
pasti bisa jadi agent of change that brings kindness to others,
Amin…

Jadi, APA
CITA-CITAmu?

WHAT YOU WANT,
BABY?

WHAT DO YOU WANT
TO BE?

SO, WHAT DO YOU
WANT TO BE IN THIS LIFE? 

Ada sebuah pepatah
yang berkata: “LIFE CAN’T WAIT, SO DESIGN YOUR OWN LIFE!”

Hidup memang tidak
bisa menunggu, jadi mari jadi designer bagi diri dan merancang hidup
ini

Hidup memang sungguh
tidak bisa menunggu, jadi mari kita tahu apa yang kita mau ^.^

*[KariN, May 2008]

One Response to “semoga cita-citanya kesampean deh”

  1. XYFloyd Says:

    This is the only site that will pay you out daily.. So make 50 bucks your first night and you get paid it that night! Check em out its so easy to do you won’t believe you are getting paid to do it.. Oh ya and its completely free.
    http://classofcashetkjbbw.blogspot.com

Leave a Reply