Waiting the Prince
Seminggu yang lalu, tepatnya, Senin yang lalu (3 Nov 2008), merupakan hari cukup ‘bersejarah’ buat aku. Why? karena banyak hal yang enak, sampai yang tidak mengenakkan buat aku terjadi dalam kurun waktu less than 24 hours! Dan semuanya berkenaan dengan satu nama; Pangeran Charles.
Biasanya, aku termasuk orang yang tergabung dalam komunitas “I hate Monday’, dikarenakan hari ini (Senen-red) adalah hari yang paling nyebelin dalam sepekan dengan segala kehiruk-pikukan yang memekakkan jiwa (entah karena deadline yang menumpuk pasca weekend, kemacetan yang tiada tara, sampe banyak hal yang nyebelin yang khas Senen-yang-patut-dibenci). Namun, suatu Senen itu, yaitu 3 November lalu (seharusnya) menjadi ’No, I Like Monday!’, karena sore itu aku akan bertemu si Pangeran. Yipie! Pangeran, yang selama aku masih kecil dulu selalu aku senandungkan bait-bait lagu khas mainan bocah yang menyebutkan namanya, lagu yang aku nyanyikan bersama teman-teman sepermainan di sela-sela ‘ular naga yang panjang bukan kepalang’ itu.
Siapa sangka, bertahun-tahun kemudian, ketika aku sudah tidak kecil lagi, aku bertemu dengannya, i’m meeting with the prince (yang kini bahkan tidak aku ingat lagi lagu yang dulu pernah kusenandungkan untuknya). Yup, i’m so damn lucky to have opportunity to met him; the royal highness, prince of wales… (so lucky? or just a lil bit lucky, as i found some unfortunate events before, during and after the ’sacred meeting’.
(to be continued)