Sleepless in Solo

Diantara banyak tanya dan efek insomnia khas Saturday night fever aku mencoba sedikit menoreh…

Waktu memang begitu lihai bersembunyi dan berlari di antara kisi-kisi belahan hari, membius dan jika tak cukup bijak bisa-bisa makin mengurangi jatah berkarya di dunia yang makin sesak ini.

Dalam keheningan, aku bergumam sendiri dan berkata ‘’Kesederhanaan adalah segalanya, karena semua hal hanyalah sementara, di duniaku ini yang fana.’’ Langit Jakarta memang masih kelam diatas sana, sementara tanahnya masih lembab sisa basuhan air hujan, dan beberapa insan warga ibukota masih tampak berlalu lalang di luar sana.

Aku, sendirian, tanpa merasa kesepian, hanya sendiri dan terjaga tanpa henti. Sudah pukul 1.30 dini hari, tiada dugem, tiada penat, hanya ingin rehat.

Aku rindu dia…

Jakarta begitu menyita waktu’ku, dunia begini mengisi hati’ku, kian ku melangkah… rasa lelah itupun makin punah.

Aku rindu dia…

I think I’m sleepless in solo, again, tonight.

Leave a Reply