Within (no) boundaries

August 11th, 2008 by karin

Why
I live in this body? She said. Why I have this feeling? He said. Why
God makes their life in such a different way? I said.

And
now, what will you say my friends? What will you see? What would you
say if you see them?

Udah
pernah nonton film ‘D’bijis’,
dimana ada salah satu karakter pria gagah perkasa nan kekar mantan
anggota band rock ternama berubah menjadi seorang waria?

Tahu
atau mungkin pernah nonton film ‘Realita,
Cinta dan Rock’n Roll

nggak? Di film itu, ada sosok ayah yang ‘berubah haluan’. Yup,
salah satu aktornya Om Berri Prima berperan menjadi sosok ‘mama’
yang cantik sekali di sini. Penjiwaan yang sungguh keren ^.^.

Atau
mungkin, udah pernah baca novel ‘Female
Undercover
’?
Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata. Novel ini berisi
kisah-kisah hasil investigasi penulisnya, yang merupakan seorang
perempuan yang ‘iseng-iseng nekat’ menjadi ‘seorang pria’
selama beberapa waktu.

Atau
pernah denger ada novel fiksi ‘Middlesex
yang bercerita tentang kehidupan seorang tokoh interseks, seorang
perempuan/laki-laki bernama Cal. Kayaknya banyak yang suka ma novel
ini, dan it
has been proved as a literally sounds terrific perfect
,
karena lewat novel ini sang penulisnya, Jeffrey E. menang Pulitzer
Award. So, mau lewat film, mau lewat buku atau novel, mau pake gaya
lokal atau manca, kayaknya semua tahu bahwa ‘kaum beda’ memang
ada dan esksis!

Sex
is between legs, gender is between ears
”,
kalimat yang merupakan sebuah pengakuan yang lugas dari seorang
transgender yang pernah tampil dalam salah satu episode Talkshow
Oprah. 

Yang
membuat pengakuan itu adalah seorang pria, seorang suami, seorang
ayah yang mengaku selama kurang lebih 48 tahun hidup di tubuh yang
salah, karena dia merasa dan yaking bahwa dirinya sejatinya adalah
seorang perempuan! Wow?! Yup,
he said that he lived in the ‘wrong body’ for years and he is
actually a she! Gee, what a shocking confession!

Transgender.
Akhir-akhir ini kata itu kerap muncul dalam beberapa episode hidup
aku. Sebenarnya dulu aku pernah denger sih, tapi baru ngeh’nya yah
akhir-akhir ini aja.

Tidak
seperti ‘trans-trans’ lainnya yang familiar di telingaku, seperti
translation, Bus Trans Jakarta atau TransTV :P, transgender ternyata
memiliki definisi yang cukup asing dan hmm,
for some people it sounds a lil bit extreme.

Transgender…
What the hell it means? I tried to look it in my dictionaries, but I
found nothing.

So
I decided to get to know more about it.

Sesaat
sebelum pengakuan dari
pria-yang-kini-wanita-namun-telah-hidup-sebagai-pria-selama-48tahun
itu dibuat, beberapa minggu sebelumnya ternyata udah ada pengakuan
awal lain. Saat itu, di salah satu episode Oprah Winfrey Show, ada
dua orang anak muda yang menjadi ‘the star of the show’. Kedua
kawula muda itu merupakan individu transgender. Mereka masih sangat
muda. Seorang anak laki-laki (yang dulunya perempuan) berumur 16
tahun dan seorang gadis (yang dulunya laki-laki) berumur 21 tahun.
Mereka tidak saling mengenal, mereka hidup dan tinggal di belahan
dunia yang berbeda, kesamaan mereka hanya satu; yaitu mereka berdua
telah bertransisi dari hakikat lahiriahnya atau dari ‘bentuk
kelahiran’ ke ‘bentuk panggilan jiwa’. Keduanya mengaku, mereka
telah merasakan kalau mereka ‘punya tubuh yang salah’ dan ingin
‘keluar’ dari tubuhnya diusia yang masih sangat muda, yakni
diumur 7 tahun! Setelah melalui banyak proses dan berbagai tahapan,
seperti penyangkalan, percobaan bunuh diri, penolakan dari
masyarakat, sampai akhirnya memiliki keyakinan utuh dan keberanian
untuk sepenuhnya berubah dengan melakukan berbagai rangkaian operasi
dan ritual medis, macam meminum hormon, dst, mereka akhirnya menjadi
bentuk dirinya yang sekarang. Kedua remaja Amerika tersebut merupakan
bukti nyata atau living
proof

dari keberadaan kaum minoritas bertajuk ‘transgender’. Dan
kemudian, pengakuan demi pengakuan lainnya, beragam pernyataan demi
pernyataan, cerita demi cerita dan ilustrasi demi ilustrasi pun
mengalir. Saat itu, aku menonton semua itu, sambil geleng-geleng
kepala dengan beragam ekspresi, dan berkata “kog bisa yah?” dan
“what a life!” berulang kali. Sebenarnya masih banyak cerita dan
kisah nyata lainnya, namun bayangan halaman yang makin banyak membuat
aku merasa semua yang dipaparkan kini telah cukup sebagai awal.

Gender
or Sex?

Traditionally,
gender has referred to grammatical classifications in languages that
have masculine, feminine, and neuter nouns; and sex has referred to
the biological classifications to which gender is analogous. For some
time, however, anthropologists have used gender to distinguish
cultural categories from biological ones (Gender roles are indistinct
among the young of this society; the two sexes play together
frequently). Cultural and biological categories are interrelated, of
course, and thus at times it can be difficult to decide which word is
more appropriate. Sex is for the most part to be preferred, except
where the word may be ambiguous (When you’re looking at résumés,
does sex matter to you?) and in idiomatic expressions such as gender
gap (“difference between the sexes”) and gender-bending (“the
blurring of distinctions between the sexes”).
Source:
Encarta
® World English Dictionary ©Microsoft Corporation.

Jadi,
transgender bukan masalah orientasi seksual, tapi lebih kepada
orientasi jati diri. Seperti yang dikatakan oleh salah satu individu
transgender, “Sex is between legs, gender is between ears”. Okeh,
okeh, I got the point Mam… aku mudheng kog ^.^

Menurutku,
Transgender <mungkin> dapat diartikan sebagai transisi gender,
perubahan dimana pelakunya atau individunya merasakan bahwa mereka
dilahirkan dalam bentuk fisik yang salah atau tidak pada tempatnya
dan tidak semestinya, karena sisi emosional dan psikologisnya
menyatakan, merasakan dan menunjukkan sebaliknya. In
short, for example, a man born in a physically women’s form or
body, while he psychotically and emotionally feels vice versa, in the
end he want to be transformed into a real concrete man.

Memang
fakta dan apa yang aku temukan saat itu (dan masih sampai saat ini)
sangat membingungkan, karena seperti kita ketahui, Tuhan hanya
menciptakan dua jenis manusia; laki-laki x perempuan, male x female,
masculine x feminine, jantan x betina. Tapi, kenyataannya sekarang
fakta dan dinamika dunia serta alur kehidupan yang makin
berwarna-warni membuat atau menciptakan jenis atau kaum dengan other
mainstreams

atau ‘mereka dengan jenis yang lain’. Kaum ini memang ‘sedikit
banyak berbeda’ dari dua jenis awal, mereka yang bukan laki-laki
atau perempuan by
nature
.
Mereka, yang dikenal masyarakat sebagai kelas khusus, dengan berbagai
label/ID seperti maaf… ‘bencong atau banci’, ‘waria’,
‘gay’, ‘lesbi’, ‘biseksual’ dan ‘hermaprodit aka
interseks (intersex)’. At
least, those are the ‘others’ that I know, so far.

Jujur,
ketika mengingat dan memikirkan topik ini, dalam pikiran aku sempat
terngiang-ngiang kalimat “gile bener, cowok jaman sekarang makin
parah ajah sih!” Ops, sorry guys. Tapi, howcome? Kenapa juga aku
bisa berpikiran kayak gitu? Well, karena setahu aku, atau dari banyak
kasus yang aku temui, sebagian besar, para tokoh atau para
pelakunya
adalah
kaum Adam! Misalnya, gay adalah para pria penyuka sesama jenis (yah,
jeruk makan jeruk gitu deh), bencong atau banci yaitu cowok yang
‘agak lemah gemulai atau rada feminim’, sementara waria merupakan
kependekan dari ‘wanita pria’ (yang merupakan pria yang <pengen>
jadi wanita). Mungkin hampir sama yah? Tapi, in
my opinion
,
mereka beda, karena secara fisik dan non-fisik mereka memang berbeda.
Sementara kelompok interseks yang aku tahu adalah para pria yang
lebih memilih atau lebih tepatnya lebih nyaman untuk condong menjadi
full
female

atow wanita seutuhnya, walaupun ada juga yang nggak masalah menjadi
keduanya (laki-laki dan perempuan). FYI interseks atow intersex
adalah those
people who biologically has male and female characteristics, or the
characteristics of both sexes
.
Jadi kelainan secara biologis anatomi dan kinerja tubuh lho. And
finally, para transgender yang pernah aku temui juga kebanyakan
berasal dari pemilik kromosom XX aka para lelaki. So,
tell me, what’s going with you boys! Because, it’s just not make
sense, sometimes
.
Maaf, tapi, itu adalah pernyataan spontan yang keluar dari mulut
seorang wanita. Mungkin karena merasa agak parno takut jadi makin
susah nemu cowok normal yang benar-benar 100% cowok, hehehe. Ops, no
sorry for being honest, no hard feeling yah buat kaum Adam, peace yo
guys  

Aku
normal, 100% ceweq ♀, or almost 100 lah :P, tapi aku sangat amat
yakin dan merasa kalo aku perempuan dan I’m
truly straight as a she.
Namun,
demikian, aku tidak pernah memandang mereka, yakni kaum yang berlabel
‘beda’ sebagai pribadi yang mengerikan ataupun aneh. Nggak bohong
kalo aku bilang bahwa aku nggak punya masalah dengan para
kaum-berlabel-beda macam yang aku sebutkan di atas. Aku punya
beberapa teman yang gay atau dkk, and I still
friends with them
,
karena aku percaya ‘person is person, no matter what they do’ dan
selama kita hidup, akan banyak hal berbeda yang muncul, tergantung
bagaimana kita menyikapinya dengan open
mind
,
solidaritas dan tepo
seliro
.

Apa
yang aku ungkapkan di sini, apa yang aku bagi, hanya semata-mata
sebagai bahan pembelajaran atas fenomena alam yang dipandang dari
sisi perspektif yang berbeda, in my perspective and based on several
scientific information. Tidak ada unsur atau niatan untuk memancing
kekeruhan, mengintimidasi, ataupun menghakimi. Harapan dari tulisanku
ini yang ada cuma satu saja, yakni kita menjadi lebih
tahu

dan menyadari
serta menghargai atau
menghormati bahwa
perbedaan dalam manusia itu akan selalu ada. Let’s appreciate our
difference and make the world much more colorful with it! 

Yeah,
that’s the fact.

Tidak,
dunia tidak gila! The
world is never being crazy!

Maybe
it’s just the creature(s) inside of it that does/do!

It
just maybe, because insanity is in people’s mind not in people’s
behaviors
.

Seperti
yang GIGI, salah satu band ternama di Indonesia, katakan “Peace,
Love and Respect
!”
  

Yup,
Kedamaian, Cinta & Kasih Sayang, dan Rasa Hormat &
Menghargai! That’s
all the matters for bringing difference in harmony.

*[KariN,
June 2008]

semoga cita-citanya kesampean deh

August 11th, 2008 by karin

semoga
cita-citamu tercapai….”

Semakin umur
bertambah, semakin waktu terlewati, semakin banyak hal yang
‘nyangkut’ di kepala, semakin banyak kegiatan, semakin banyak
masalah, tapi semakin sedikit pilihan. Apakah benar begitu adanya?

Tapi, diantaranya,
apakah masih ada 1?  SATU hal saja yang tetap, tak berubah?

Ketika itu, dulu
sekali, aku dan beberapa teman kuliah sedang berembuk,
ngobrol-ngobrol ngalor ngidul mengenai rencana pembuatan album
angkatan, mengingat masa studi yang kian mendekati ajal. Yeah, album
angkatan merupakan sebuah wadah wajib pemersatu tali ‘togetherness
jika kelak perpisahan dibarengi jarak langkah dan waktu membatasi
gerak gerik pertemanan kami.

So, then a bunch
of some frenzied youths called themselves a creative team decided to
share ideas and energies to make their little wish come true.

Maka disusunlah
beberapa hal, tugas +job description masing-masing dan format materi
untuk realisasi keinginan kami itu.

Tugas pertama adalah
collecting data (ribetnya udah kayak bikin skripsi ajah deh,
gaya amat, hehehe). Yup, 1st thing 1st,
ngumpulin data anak-anak 1 angkatan, untuk kemudian dibikin profil.

For us, profile
means brief information of a person in the class.

Lalu, suatu ketika
kami bertemu lagi, ngumpul-ngumpul lagi & aku meminta memasukkan
kata ‘cita-cita’ di dalam isian data profil untuk kemudian
diedarkan ke para sumber data aka teman-teman sekelas, beberapa orang
merasa hal itu tidak perlu. Dan lucunya, ketika aku tetap ngeyel
dan meminta beberapa teman memberitahukan cita-citanya dan
menyertakannya ke dalam isian profil mereka, sebagian besar tidak
bisa (atau tidak mau) menjawab atau mereka tidak tahu pasti dan
memberitahu cita-citanya apa. Nah lo?! Kog bisa yah? Dan akhirnya,
for some reasons, singkat cerita, dalam profile section, tidak
ada kata ‘cita-cita’.

Hal ini ternyata
cukup mengusik dan menggelitik sanubariku.

Apakah ketika kita
beranjak dewasa, dan umur semakin bertambah, cita-cita menjadi
terlupakan atau bahkan perlahan-lahan memudar?

Diksi ‘cita-cita’
yang aku maksud di sini mengacu kepada kata ‘cita-cita’ yang dulu
sering kita temui ketika kita masih ‘duduk’ di bangku sekolah;
esp. di TK, SD, SMP atow SMA. Ketika Bapak atau Ibu Guru bertanya
“apa cita-citamu nak?”, atau ketika seorang teman berkata “kamu
kalo udah gede pengin jadi apa?”. Lalu beragam jawaban pun
bermunculan, ada yang menjawab “Dokter”, “Polisi”, “Guru”,
“Astronot”, “Insinyur”, “Penyanyi”, bahkan tidak jarang
pula yang menjawab “Presiden”, serta berbagai macam profesi
sesuai minat masing-masing.

Aku sendiri dulu
sempat beberapa kali mengalami fase gonta-ganti cita-cita. Mulai dari
‘pengin jadi Pelukis’ di saat aku masih sekolah TK, karena aku
percaya banget saat itu lukisan aku yang sering dapet nilai 9 itu
merupakan maha karya yang wah (padahal lukisan model corat-coretan
Pablo Picasso masa bayi :P). Lalu pas di SD cita-citaku berganti
menjadi ‘astronot’ dan ‘dokter’.  Pas aku masuk SMP, aku
sempat berpikir dan mempunyai keinginan sesaat untuk menjadi
“pramuka”, karena saat itu aku terpesona setengah gila oleh aura
senior aku di eskul pramuka yang sumpah-keren-banget.. hehehe. Tapi,
akhirnya kata ‘dokter’ tetap merasuk di hati sampai SMA, dimana
aku memutuskan untuk masuk jurusan IPA. Tapi, akhirnya impian itu
kandas di tengah jalan, karena aku merasa tidak bakal ‘tahan dan
bisa muntah-muntah’ jika harus menangani hal-hal yang berbau ‘darah
dan jarum’ ketika mulai paham arti ilmu kedokteran yang
sesungguhnya. Crab!

So, then,
I’ve been dumped in Sastra Inggris! Tapi, sejak kecil, aku
memang senang bermain dengan ‘kata-kata’ dengan ‘bahasa’ dan
‘garam Inggris versi Sesame Street’, hehehe, jadi yah it’s
an almost perfect pit stop for me
. Namun, di masa-masa kuliah,
tidak ada lagi kata ‘cita-cita’ yang benar-benar dominan dan
nyata, tidak seperti masa-masa sekolah dulu. Misalnya ketika di SD
saat aku masih berangan-angan menjadi seorang astronot, aku membaca
begitu banyak buku yang berbau astronomi. Namun, hukum ‘cita-cita’
itu tiba-tiba mati suri dan tidak berlaku lagi, karena menjadi
mahasiswi ternyata menguras begitu banyak waktu dan energi; kuliah,
belajar, bersosialisasi, beradaptasi, berkarya, ber’gaul… etc.

Ketika aku bergabung
di divisi ‘Press aka Pers Mahasiswa’, aku pikir aku akan menyukai
ide menjadi seorang jurnalis. Namun, ketika masuk pertengahan
semester, aku mulai mengenal dunia radio dan penyiaran, aku
memutuskan bahwa aku akan menjadi seorang ‘Penyiar’ saja, well
that’s quite cool. Waktu berderu, hari pun berlalu, beragam
‘profesi’ singkat aku jabanin; mulai dari guru les, presenter,
reporter, penerjemah, narator, relawan, administrator internet, staff
administrasi, ampe jadi ghost writer lah, copy writer lah, customer
care lah, staff EO lah bahkan sampe nekat jadi produser teater (gila
dah)! Sampai-sampai udah kayak kernet metromini dikejar setoran,
hehehe, padahal asli cuman gara-gara pengin nyoba-nyoba ajah, atau
kadang-kadang dilandaasi sekedar niat membantu teman. Jadilah,
masa-masa sok-padat-karya datang silih berganti. Pernah ada suatu
masa ketika aku menjadi cewek yang
pagi-kuliah-atau-konsultasi-skripsi, lalu siang-kerja-magang, terus
sore-latihan-drama-&-sekaligus-pegang-kewajiban-jadi-produser,
kemudian rada-malem-istirahat-bentar, then
malem-siaran-ampe-tengah-malem. Wuih, serasa kayak kelinci yang pake
batu baterai full charged di iklan Energizer itu, huhuhu.

Kisi-kisi waktu,
haru, lelah, resah, inputs dan outputs bergantian
menganyam mengisi diri. Cerita cita perlahan mulai menepi dan
menyendiri… sampai akhirnya terhempas di ruang ICU.

Kini, cerita cita
mulai memberanikan diri untuk menampilkan hakikatnya…

“Aku sungguh tidak
mau lagi ‘heterogen’. Lelah. Aku sungguh tidak malu lagi untuk
menampilkan diri” begitu si cita-cita berkata.

Kini, aku mulai
menapaki segala kronologis yang telah usang, mulai menyaring potensi
diri, mulai mendengarkan kata hati dan menorehkan kata-kata ‘what
I want to be
…’ ralat, “what I really really want to be…”
di kompas jejak langkahku.

Kini, Aku tahu apa
itu. Aku punya cita-cita, yaitu aku mau menjadi: **** (confidential,
ah rahasia dunk! Hehehe)

Yang pasti aku
pengen punya profesi yang “if it’s to be, it’s up to me
dan pengeng jadi manusia sukses yang “energized by a love for
what I do because it brings me even closer to who I am
” Yang
pasti bisa jadi agent of change that brings kindness to others,
Amin…

Jadi, APA
CITA-CITAmu?

WHAT YOU WANT,
BABY?

WHAT DO YOU WANT
TO BE?

SO, WHAT DO YOU
WANT TO BE IN THIS LIFE? 

Ada sebuah pepatah
yang berkata: “LIFE CAN’T WAIT, SO DESIGN YOUR OWN LIFE!”

Hidup memang tidak
bisa menunggu, jadi mari jadi designer bagi diri dan merancang hidup
ini

Hidup memang sungguh
tidak bisa menunggu, jadi mari kita tahu apa yang kita mau ^.^

*[KariN, May 2008]

kisah krisis

June 11th, 2008 by karin

Suatu pagi di suatu hari yang sangat lalu, listrik di rumah eyang tiba-tiba mati (hupf, it’s the 2nd time in this week!, PLN’s not so cool! Ops, sorry pak PLN),
Listrik mati, padahal gue udah selesai olahraga pagi, padahal gue udah sarapan, dan yang lebih penting gue udah ngerendem cucian. Tapi listrik malah mati!
Akhirnya, gue ikut ‘mati’; karena mati gaya (& jadi homesick), gue ambil HP & nelpon orangtua d kampung.

“asslm, pa kabar Pah?” sapa’ku…
“waalaikumsalam.. ngopo?…” sapa balik bokap.
“gak papah, ibu ada nggak Pah”, then I spoke to nyokap, bla… bla… bla…. Obrolan pertama soal kebaya, lalu berkembang ke hal-hal lain beraneka macam. Trus nyokap ngomong “eh udah yah, Ibu buru-buru nih, masih banyak kerjaan”.
“lha emang mau kemana?” (pikir gue, tumben amat buru-buru gitu).
“nggak, nih mo masak, mo…. Bla..bla…bla..” (selanjutnya, tersebutlah daftar to-do-list khan ibu rumah tangga). “Mesti buru-buru nih, takut, kemarin soalnya listrik mati, dari jam setengah 8 sampe jam 7 baru nyala!” (mikir donq gue, setengah 8 kok ampe jam 7, nggak kebalik?).
“hah, mati dari pagi ampe malem Bu?!” respon gue
“iyah,  orang rumah aja ampe pada nggak mandi gitu… bla… bla.. bla..” sang Ibu pun bercerita… wuz…
“lha, kog bisa mati listrik? (pertanyaan bodoh pertama), emang belom bayar listrik (pertanyaan bodoh kedua)” yah, gue masih belom ngerti ajah… karena saat itu week days.
“lha, apa kamu nggak tahu, di Jakarta sekarang suka ada pemadaman bergilir, emang kamu nggak pernah nonton berita di tipi-tipi… bla… bla…bla..” kelihatan tambah bodoh deh gue!, hehehe, tapi gue bisa ngeles lalu bilang.
“yah, aku nggak nyangka ajah di Jakarta sekarang kayak gitu, soalnya kan matinya aneh lama, pas hari biasa gitu” (biasa = week day & hari cerah; dimana lagi nggak musim layangan, nggak ada hujan, nggak ada petir dan nggak ada angin yang bisa menyebabkan aliran listrik bisa terganggu ampe mati).
Nyokap lalu nanya kabar gue & eyang putri,
“yah, disini lagi mati listrik nih, nggak tahu, tiba-tiba aja mati gitu” jawab gue.
“wah, ati-ati kamu, biasanya mati listrik dari pagi nyalanya ampe sore, ati-ati pemadaman bergilir” lah si Ibu, kog malah nakut-nakutin gitu sih…

Obrolan pun berlanjut, partner pun berganti, sekarang gue ngobrol ma Bokap. Bla…bla.. bla.. ngobrol ngalor-ngidul soal birokrasi, ngobrol soal wisuda, ngobrol soal krisis energi… eits, krisis energi?
“kata Ibu kemaren listrik mati ampe malem tho Pah?… bla.. bla.. bla..” Tanya gue
“iyah, repot, lagi krisis energi, emang kamu ndak baca berita?… bla.. bla.. bla..” waduh si Papah, sempet-sempetnya nyindir dikit nih… yah nyindir gue, yah nyindir pemerintah, yah nyindir masyarakat…
Trus, bla, bla, bla, ganti topik, ngobrol soal kerjaan… and cas, cis, cus…
Obrolan kami pun rada nggak berkembang lagi ampe akhirnya “cukup sekian” karena si Papah mau ‘ngantor’…
“wassalam….”
Klik!

Abis nelpon, gue jadi rada-rada mikir, “krisis energi, krisis listrik…”
Dan tiba-tiba gue jadi inget, kemaren sore gue sempet chatting via Yahoo! Messenger ma seorang temen, tapi nggak bisa lama, karena lowbat, dan saat itu, listrik di tempat dia lagi mati…
Tapi posisi temen gue itu di Solo, bukan di Jakarta kayak orang rumah gue.
Tapi walau begitu, kog nasib dia bisa sama ma orang2 kampung gue? Tapi he’s luckier, untungnya dia baru kena “padam” sore hari. Nggak kayak orang rumah gue (dimana bokap, nyokap dan adek2 gue & juga tetanggga2 gue, yang nggak bisa nonton tivi, nggak bisa pake komputer, nggak bisa ‘pake listrik’ dan mungkin pada nggak mandi sampai malam, karena kena “pemadaman listrik”)

Sekarang, mereka “nyala”, giliran gue yang “padam”… emang dasar, bumi itu bunder!

10 menit, 15 menit, setengah jam, satu jam, dua jam, belom nyala juga, gue mulai resah gelisah karena gerah (di rumah eyang, air dan listrik dinikahkan dengan water pump, jadi yah sehidup semati walo nggak vice versa). Lalu, gue ambil yellow pages (buku telpon), pencet-pencet beberapa nomer, layanan PLN, sibuk semua, nggak ada yang ngangkat!. Gue percaya (dan sudah beberapa kali terbukti), kalo lagi listrik mati, gue nelpon PLN, pasti nggak lama abis itu listrik bakal nyala. Yah tapi, kalopun nggak, yah paling nggak gue jadi dapet ‘info penting yang cukup membantu mengurangi keresahan gue’ hehehe.

Tapi, hari itu, PLN Solo rupanya lagi bener2 ‘sibuk’. Gagal nelpon deh.
BT, makin resah, makin gelisah, makin gerah (karena cuaca di luar tambah terik saja), akhirnya gue “maen air (nyuci manual baju-baju di ember rendeman)”, nggak lama setelah selesai “maen air”, kemudian perut terasa laper, lalu makan sepiring nasi goreng yang udah disiapkan eyang gue sebelom beliau pergi.
Home alone, BT & resah karena listrik padam,
Kenyang dan lelah, akhirnya gue tidur, dengan harapan “abis tidur, abis ‘gelap’, terbitlah terang (dan listrik)”…
Zzz, ‘ketiduran sebentar’, harapan gue terkabul, listrik nyala, gue pun jadi bisa beraktifitas, dan yang lebih penting gue bisa mandi dulu! Eureka, Hehehe!

Tapi, moral of the story, gue sungguh-sungguh tidak berani dan tidak bisa membayangkan…
“Gimana kalo krisis energi, krisis listrik makin parah?” “Masak mau ‘marah2’ ma PLN mulu?” no use ah…
“How’s life without electricity?” (Akankah.. Gelap? Garing?)
“Bisa-bisa, kita jadi tambah sering resah, gelisah dan gerah, because we –human race- udah addicted to electricity!”
Yah, akhirnya gue ngomong ke diri sendiri: 
“makin tambah sering aware and care ajah dech, hemat energi, hemat listrik, before it’s too late….” [kariN]

*Fun-and-Great-Fact

Surfing Hemat
Sumber: CHIC Magazine No. 11 (Mei 2008)

Ingin menghemat energi ketika surfing di internet?
Kalo begitu, surfing (atau lebih tepatnya googling) aja via situs pencarian atau search engine www.blackle.com
Situs yang dikelola Heap Media ini tetap menggunakan Google based, tetapi diklaim lebih hemat energi, karena tampilan situs ini didominasi oleh warna hitam (pantes namanya ada “black”nya :p).
Menurut pembuat blackle.com ini, situs yang berlatar belakang warna hitam bisa menghemat 750 megawatt jam pertahun. Dengan begitu tentu akan lebih banyak energi yang bisa dihemat, seiring dengan popularitas search engine ini. Serunya, dari halaman muka (homepage) situs blackle, kita jadi bisa tahu seberapa banyak energi yang dihemat.
Gue udah nyoba, keren kog! Dan hasil ‘search-an-nya’ atau search result’nya nggak jauh beda, atow = kalo kita pake google.
Blacklethumb

It’s fun, it’s great, it’s a fact!
Try and prove it by yourself ;-)

green = iJO…

May 26th, 2008 by karin

Treesmall
Akhir-akhir ini isu pelestarian lingkungan atau lebih beken dengan gaung “go green” makin gencar saja beredar di seantero dunia, termasuk di Indonesia. Go green, yang secara hafiah berarti “menjadi (lebih) hijau” merupakan campaign tag bagi gerakan atau aksi lingkungan buat ngurangin efek pemanasan global.

Pemanasan global atau global warming udah jadi isu yang bener-bener mengglobal saat ini dan makin jadi kayak sebuah warning atau peringatan bagi kelangsungan hidup seluruh penghuni bumi. Jadi nggak heran kalo banyak orang yang tiba-tiba latah ngomongin global warming di mana-mana, nggak hanya di tv, tapi juga di bioskop, radio, koran, majalah atau di blog, bahkan aku pernah nemu kata ini di komik!. Dari orang biasa macam kita, anak balita ampe nenek-nenek, dari pejabat sampai selebritis pun jadi latah dan sering banget ngomongin kosa kata yang sekarang happening banget itu. “Let’s stop global warming”, begitu kata mereka.

Sebenernya apa sih ‘global warming’ itu sendiri?
Global warming atau lebih dikenal sebagai pemanasan global adalah peningkatan suhu rata-rata di atmospher, lautan, dan daratan bumi sebagai akibat dari efek gas rumah kaca. Efek rumah kaca dapat dibayangkan sebagai sebuah proses. Atmosfer dianalogikan sebagai rumah kaca yang mengelilingi bumi. Nah, panas matahari masuk ke bumi dengan menembus rumah kaca tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek. Sebagian diserap oleh bumi dan sisanya dipantulkan kembali ke angkasa sebagai radiasi gelombang panjang.

Global warming jadi penyebab perubahan iklim yang nggak jelas, meningkatnya ketinggian air laut, banjir, badai, mencairnya es di kutub utara, musim kemarau yang panjang, sampai kebakaran hutan! 

Sekarang kita jadi tahu kan kenapa akhir-akhir ini di Indonesia sering banget terjadi bencana alam. Bahkan, katanya, kalau kondisi lingkungan tidak juga membaik, di tahun 2050, ada sekitar 2.000 pulau di Indonesia yang bakalan terendam air laut! Wuih, ngeri banget kan?

Pernah nonton film yang bertema “hijau” seperti An Inconvenient Truth, Earth atau the 11th Hour? Itu hanya beberapa contoh film dokumenter berbau lingkungan yang sudah aku tonton dan recommended banget. Great movies, penuh dengan gambar-gambar isi bumi yang indah. Film-film itu selain bikin kita amazed ma keindahan isi bumi, juga bikin kita para manusia bangun dan sadar bahwa banyak ulah manusia yang bikin si bumi (dan penghuninya) jadi makin sakit.

Trus gimana caranya biar kita bisa jadi lebih hijau dan ikut peduli melindungi bumi?
Well, sebenernya banyak banget yang bisa kita lakuin buat bumi kita tercinta ini.
Tapi, yang paling gampang dan yang paling penting ya dengan memulainya dari diri sendiri dulu. Kayak yang gampang-gampang aja, mulai dari hemat listrik dengan mematikan lampu dan peralatan elektronik saat nggak dipakai, memilih naik kendaraan umum daripada naik kendaraan pribadi, menghemat pemakaian kertas, sampai ngurangin penggunaan kantong plastik misalnya dengan membawa wadah dari rumah pas beli bakso, jadi nggak perlu bungkus plastik (sst, menurut penelitian, sampah plastik hanya bisa didaur ulang sekali aja dan butuh waktu kurang lebih seribu tahun buat diuraikan di dalam tanah!).

Dengan membuat perubahan kecil dalam kebiasaan kita sehari-hari atau jadi sedikit lebih hijau (go green) dan ‘menularkannya’ ke keluarga, teman, kenalan, pacar atau pasangan, kita bisa membuat suatu perubahan. Karena, semua orang bisa membantu dan ikut peduli! Bukan menyelamatkan bumi saja, tetapi menyelamatkan manusia juga! [KariN]

Untuk tahu lebih banyak tentang pemanasan global dan aksi lingkungan hidup lainnya, kunjungi www.greenpeace.org, www.stopglobalwarming.org atau www.loveearth.com

1 clue.. for man only

May 21st, 2008 by karin

1 Puisi
‘tuk para lelaki

(It is
a clue about woman, so take smart look boys! ^-^)

 

Call
a woman a kitten, but never a cat;

You
can call her a mouse, cannot call her a rat;

Call
a woman a chicken, but never a hen;

Or
you surely will not be her caller again.

 

You
can call her a duck, cannot call her a goose;

You
can call her a deer, but never a moose;

You
can call her a lamb, but never a sheep;

Economic
she likes, but you can’t call her cheap.

 

You
can say she’s a vision, can’t say she’s a sight;

And
no woman is skinny, she’s slender and slight;

If
she should burn you up, say she sets you afire;

And
you’ll always be welcome, you tricky old liar.

 

(A poem
entitled “semantics” by John E. Donovan, in the Saturday Evening
Post,July
13, 1946 as cited in Mccrimmon’s)

wink in a coincidence

May 14th, 2008 by karin

Does God truly winks?

co·in·ci·dence   <kebetulan>
co·in·ci·dence [kō ínsidənss]
(plural co·in·ci·dences)
n
1.  Chance happening: something that happens by chance in a surprising or remarkable way 
2.  Happening without planning: the fact of happening by chance
3.  Having identical features: the fact or condition of happening at the same time or place or being identical (formal) 

wink           <mengedipkan sebelah mata>
wink [wingk]
v (past winked, past participle winked, present participle wink·ing, 3rd person present singular winks)
1.  vti gesture by closing one eye briefly: to close one eye briefly, usually either as a friendly greeting or to show that something just done or said is a joke or a secret

Encarta ® World English Dictionary © & (P) 1998-2004 Microsoft Corporation.

                    Tidak ada yang namanya kebetulan.
                    Dan apa yang tampak oleh kita sebagai sekadar kebetulan
                   Sebenarnya muncul dari sumber takdir yang terdalam

                                                Johann von Schiller


Rumusan kata kebetulan diuraikan dalam American Heritage Dictionary sebagai “Suatu urutan peristiwa yang meskipun terjadi tanpa disengaja tetapi sepertinya sudah direncanakan atau diatur”. Rumusan ini tentu saja memunculkan pertanyaan, “Direncanakan atau diatur oleh siapa?”

Sebagian besar orang akan mejawab, “Tentu saja oleh Tuhan.”
Terlepas dari apa pun sebutan yang kita gunakan untuk menyebut kekuatan hidup kreatif itu, sepertinya kekuatan itu bukan sekadar arsitek dari masa lampau, tetapi juga arsitek setiap menit dari kehidupan kita saat ini.

Jadi ada arsitek yang menciptakan hidup kita. Kalau begitu, apa peran kita di dalamnya?

Tentunya bukan sekadar duduk di tepian dan menonton kehidupan kita terkuak.

                    Nasib bukanlah soal kebetulan. Tetapi soal pilihan.
                    Nasib bukanlah sesuatu yang perlu ditunggu.
                    Tetapi sesuatu yang perlu dicapai.


                                        William Jennings Bryan


Kita bisa mempengaruhi masa depan dan takdir kita, dan isyarat Tuhan (yang merupakan sebuah isyarat, petunjuk ataupun pesan pribadi, langsung dari suatu kekuatan yang lebih tinggi, yang biasanya, meskipun tidak selalu, dalam bentuk kebetulan) bisa membantu kita melihat apakah pilihan kita sudah tepat.
Ketika kita membuat pilihan, menjalani hidup dari hari ke hari, dan belajar dari masa lalu, isyarat-isyarat yang kita terima adalah tepukan di punggung dari alam semesta yang meneguhkan kita untuk terus berjalan, meyakinkan kita untuk terus berpengharapan, dan membuat kita tetap hidup.

Kita hanya perlu menerima bahwa meskipun hidup seringkali merupakan misteri,
Kita –masing-masing individu—mempunyai peran di dalam semesta misteri itu terungkap.
Kita perlu bertindak untuk impian kita dan hadir untuk penampakan ilahi dalam kehidupan sehari-hari. Itulah takdir kita.

Mulai dari sekarang, manakala peristiwa kebetulan muncul, terutama di saat-saat penting dalam hidup kita, mudah-mudahan kita akan berkata, “Aaahhh, mungkinkah itu Isyarat Tuhan?”
Kemungkinan besar itu memang Isyarat Tuhan.

Segala sesuatu akan tampak berbeda bila kita mampu dan mau melihatnya dari sudut pandang yang lebih tinggi 

(Adapted from “When God Winks — How the Power of Coincidence Guides Your Life”, SQuire Rushnell, 2002)

“(You Want To) Make A Memory”

May 9th, 2008 by karin

Hello again, it’s you and me
Kinda always like it used to be
Sippin’ wine, killing time
Trying to solve life’s mysteries.
How’s your life, it’s been a while
God it’s good to see you smile
I see you reaching for your keys
Looking for a reason not to leave.

If you don’t know if you should stay
If you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory.

I dug up this old photograph
Look at all that hair we had
It’s bittersweet to hear you laugh
Your phone is ringing, I don’t wanna ask.

If you go now, I’ll understand
If you stay, hey, I got a plan
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory.

If you don’t know if you should stay
And you don’t say what’s on your mind
Baby just, breathe there’s no where else tonight we should be-
You wanna make a memory
You wanna steal a piece of time
You could sing a melody to me
And I could write a couple lines
You wanna make a memory
You wanna make a memory

recognition

August 3rd, 2007 by karin

we all just ordinary people…..

aku selalu percaya bahwa "everything happens for a reason…."

karena itu smua ketidakpastian & ketidakEnakan yg terjadi (maupun smua hal2 yg menyenangkan) pasti terjadi karena sesuatu…
seperti hujan yg muncul karena terjadinya pemanasan air laut yg kemudian menguap ke atas & menjadi gumpalan awan , mendung, lalu hujan… kemudian terjadilah siklus hujan yg terkenal itu…

just believe that everything happens for a reason…
smua kejadian pasti ada hikmahnya…

itu saja…

no cure

May 2nd, 2007 by karin

I fear I am not in my perfect mind.
Methinks I should know you and know this man;
Yet, I am doubtful; for I am mainly ignorant…

no alzeimer’s please…

to young…

to scary…

to good to be forgetfull…

I fear I am not in my perfect mind.
Methinks I should know you and know this man;
Yet, I am doubtful; for I am mainly ignorant…

no YesTerdaY

March 12th, 2007 by karin

"Yesterdays"

Flowers cut and brought inside
Black cars in a single line
Your family in suits and ties
And you’re free

The ache I feel inside
Is where the life has left your eyes
I’m alone for our last goodbye
But you’re free

I remember you like yesterday, yesterday
I still can’t believe you’re gone, oh…
I remember you like yesterday, yesterday
And until I’m with you, I’ll carry on

Adrift on your ocean floor
I feel weightless, numb, and sore
A part of you in me is torn
And you’re free

I woke from a dream last night
I dreamt that you were by my side
Reminding me I still had life
In me

I’ll carry on

Every lament is a love song
Yesterday, yesterday
I still can’t believe you’re gone
So long my friend, so long

 

Aku lagi
seneng banget ma lagu ini. Bukan hanya karena lagunya yang sumpah enak dan agak
sedikit mellow namun menyejukkan jiwa, tapi juga karena liriknya yang lumayan
dalem.

 

Yesterday
by Switchfoot

Sebuah
lagu yang intinya bercerita mengenai kedukaan dan kehilangan seorang sahabat.

 

“Yesterday
is a history. Tomorrow is a mystery. Today is a gift, that’s why we call it as
the present”. Quote yang satu ini aku suka banget. Emang yang udah lewat di
masa lalu tinggal sejarah, sementara apa yang akan terjadi selanjutnya kita gax
bakal tau (kecuali kalo kita dukun/paranormal :p), karena masa depan masih
misteri, dan apa yang ada sekarang adalah hadiah… karena kita (masih) bisa
hidup di hari ini.

Kemarin.
Besok. Hari ini. Semuanya penuh syukur, walaupun disamping hal yang enak pasti
ada yang gax enak. Yin & Yang.

Life just
happen once.

Yesterday.
Tomorrow. Today. All time in our life were/will be/are presents!