Within (no) boundaries
August 11th, 2008 by karinWhy
I live in this body? She said. Why I have this feeling? He said. Why
God makes their life in such a different way? I said.
And
now, what will you say my friends? What will you see? What would you
say if you see them?
Udah
pernah nonton film ‘D’bijis’,
dimana ada salah satu karakter pria gagah perkasa nan kekar mantan
anggota band rock ternama berubah menjadi seorang waria?
Tahu
atau mungkin pernah nonton film ‘Realita,
Cinta dan Rock’n Roll’
nggak? Di film itu, ada sosok ayah yang ‘berubah haluan’. Yup,
salah satu aktornya Om Berri Prima berperan menjadi sosok ‘mama’
yang cantik sekali di sini. Penjiwaan yang sungguh keren ^.^.
Atau
mungkin, udah pernah baca novel ‘Female
Undercover’?
Sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata. Novel ini berisi
kisah-kisah hasil investigasi penulisnya, yang merupakan seorang
perempuan yang ‘iseng-iseng nekat’ menjadi ‘seorang pria’
selama beberapa waktu.
Atau
pernah denger ada novel fiksi ‘Middlesex’
yang bercerita tentang kehidupan seorang tokoh interseks, seorang
perempuan/laki-laki bernama Cal. Kayaknya banyak yang suka ma novel
ini, dan it
has been proved as a literally sounds terrific perfect,
karena lewat novel ini sang penulisnya, Jeffrey E. menang Pulitzer
Award. So, mau lewat film, mau lewat buku atau novel, mau pake gaya
lokal atau manca, kayaknya semua tahu bahwa ‘kaum beda’ memang
ada dan esksis!
“Sex
is between legs, gender is between ears”,
kalimat yang merupakan sebuah pengakuan yang lugas dari seorang
transgender yang pernah tampil dalam salah satu episode Talkshow
Oprah.
Yang
membuat pengakuan itu adalah seorang pria, seorang suami, seorang
ayah yang mengaku selama kurang lebih 48 tahun hidup di tubuh yang
salah, karena dia merasa dan yaking bahwa dirinya sejatinya adalah
seorang perempuan! Wow?! Yup,
he said that he lived in the ‘wrong body’ for years and he is
actually a she! Gee, what a shocking confession!
Transgender.
Akhir-akhir ini kata itu kerap muncul dalam beberapa episode hidup
aku. Sebenarnya dulu aku pernah denger sih, tapi baru ngeh’nya yah
akhir-akhir ini aja.
Tidak
seperti ‘trans-trans’ lainnya yang familiar di telingaku, seperti
translation, Bus Trans Jakarta atau TransTV :P, transgender ternyata
memiliki definisi yang cukup asing dan hmm,
for some people it sounds a lil bit extreme.
Transgender…
What the hell it means? I tried to look it in my dictionaries, but I
found nothing.
So
I decided to get to know more about it.
Sesaat
sebelum pengakuan dari
pria-yang-kini-wanita-namun-telah-hidup-sebagai-pria-selama-48tahun
itu dibuat, beberapa minggu sebelumnya ternyata udah ada pengakuan
awal lain. Saat itu, di salah satu episode Oprah Winfrey Show, ada
dua orang anak muda yang menjadi ‘the star of the show’. Kedua
kawula muda itu merupakan individu transgender. Mereka masih sangat
muda. Seorang anak laki-laki (yang dulunya perempuan) berumur 16
tahun dan seorang gadis (yang dulunya laki-laki) berumur 21 tahun.
Mereka tidak saling mengenal, mereka hidup dan tinggal di belahan
dunia yang berbeda, kesamaan mereka hanya satu; yaitu mereka berdua
telah bertransisi dari hakikat lahiriahnya atau dari ‘bentuk
kelahiran’ ke ‘bentuk panggilan jiwa’. Keduanya mengaku, mereka
telah merasakan kalau mereka ‘punya tubuh yang salah’ dan ingin
‘keluar’ dari tubuhnya diusia yang masih sangat muda, yakni
diumur 7 tahun! Setelah melalui banyak proses dan berbagai tahapan,
seperti penyangkalan, percobaan bunuh diri, penolakan dari
masyarakat, sampai akhirnya memiliki keyakinan utuh dan keberanian
untuk sepenuhnya berubah dengan melakukan berbagai rangkaian operasi
dan ritual medis, macam meminum hormon, dst, mereka akhirnya menjadi
bentuk dirinya yang sekarang. Kedua remaja Amerika tersebut merupakan
bukti nyata atau living
proof
dari keberadaan kaum minoritas bertajuk ‘transgender’. Dan
kemudian, pengakuan demi pengakuan lainnya, beragam pernyataan demi
pernyataan, cerita demi cerita dan ilustrasi demi ilustrasi pun
mengalir. Saat itu, aku menonton semua itu, sambil geleng-geleng
kepala dengan beragam ekspresi, dan berkata “kog bisa yah?” dan
“what a life!” berulang kali. Sebenarnya masih banyak cerita dan
kisah nyata lainnya, namun bayangan halaman yang makin banyak membuat
aku merasa semua yang dipaparkan kini telah cukup sebagai awal.
Gender
or Sex?
Traditionally,
gender has referred to grammatical classifications in languages that
have masculine, feminine, and neuter nouns; and sex has referred to
the biological classifications to which gender is analogous. For some
time, however, anthropologists have used gender to distinguish
cultural categories from biological ones (Gender roles are indistinct
among the young of this society; the two sexes play together
frequently). Cultural and biological categories are interrelated, of
course, and thus at times it can be difficult to decide which word is
more appropriate. Sex is for the most part to be preferred, except
where the word may be ambiguous (When you’re looking at résumés,
does sex matter to you?) and in idiomatic expressions such as gender
gap (“difference between the sexes”) and gender-bending (“the
blurring of distinctions between the sexes”). Source:
Encarta
® World English Dictionary ©Microsoft Corporation.
Jadi,
transgender bukan masalah orientasi seksual, tapi lebih kepada
orientasi jati diri. Seperti yang dikatakan oleh salah satu individu
transgender, “Sex is between legs, gender is between ears”. Okeh,
okeh, I got the point Mam… aku mudheng kog ^.^
Menurutku,
Transgender <mungkin> dapat diartikan sebagai transisi gender,
perubahan dimana pelakunya atau individunya merasakan bahwa mereka
dilahirkan dalam bentuk fisik yang salah atau tidak pada tempatnya
dan tidak semestinya, karena sisi emosional dan psikologisnya
menyatakan, merasakan dan menunjukkan sebaliknya. In
short, for example, a man born in a physically women’s form or
body, while he psychotically and emotionally feels vice versa, in the
end he want to be transformed into a real concrete man.
Memang
fakta dan apa yang aku temukan saat itu (dan masih sampai saat ini)
sangat membingungkan, karena seperti kita ketahui, Tuhan hanya
menciptakan dua jenis manusia; laki-laki x perempuan, male x female,
masculine x feminine, jantan x betina. Tapi, kenyataannya sekarang
fakta dan dinamika dunia serta alur kehidupan yang makin
berwarna-warni membuat atau menciptakan jenis atau kaum dengan other
mainstreams
atau ‘mereka dengan jenis yang lain’. Kaum ini memang ‘sedikit
banyak berbeda’ dari dua jenis awal, mereka yang bukan laki-laki
atau perempuan by
nature.
Mereka, yang dikenal masyarakat sebagai kelas khusus, dengan berbagai
label/ID seperti maaf… ‘bencong atau banci’, ‘waria’,
‘gay’, ‘lesbi’, ‘biseksual’ dan ‘hermaprodit aka
interseks (intersex)’. At
least, those are the ‘others’ that I know, so far.
Jujur,
ketika mengingat dan memikirkan topik ini, dalam pikiran aku sempat
terngiang-ngiang kalimat “gile bener, cowok jaman sekarang makin
parah ajah sih!” Ops, sorry guys. Tapi, howcome? Kenapa juga aku
bisa berpikiran kayak gitu? Well, karena setahu aku, atau dari banyak
kasus yang aku temui, sebagian besar, para tokoh atau para
pelakunya adalah
kaum Adam! Misalnya, gay adalah para pria penyuka sesama jenis (yah,
jeruk makan jeruk gitu deh), bencong atau banci yaitu cowok yang
‘agak lemah gemulai atau rada feminim’, sementara waria merupakan
kependekan dari ‘wanita pria’ (yang merupakan pria yang <pengen>
jadi wanita). Mungkin hampir sama yah? Tapi, in
my opinion,
mereka beda, karena secara fisik dan non-fisik mereka memang berbeda.
Sementara kelompok interseks yang aku tahu adalah para pria yang
lebih memilih atau lebih tepatnya lebih nyaman untuk condong menjadi
full
female
atow wanita seutuhnya, walaupun ada juga yang nggak masalah menjadi
keduanya (laki-laki dan perempuan). FYI interseks atow intersex
adalah those
people who biologically has male and female characteristics, or the
characteristics of both sexes.
Jadi kelainan secara biologis anatomi dan kinerja tubuh lho. And
finally, para transgender yang pernah aku temui juga kebanyakan
berasal dari pemilik kromosom XX aka para lelaki. So,
tell me, what’s going with you boys! Because, it’s just not make
sense, sometimes.
Maaf, tapi, itu adalah pernyataan spontan yang keluar dari mulut
seorang wanita. Mungkin karena merasa agak parno takut jadi makin
susah nemu cowok normal yang benar-benar 100% cowok, hehehe. Ops, no
sorry for being honest, no hard feeling yah buat kaum Adam, peace yo
guys
Aku
normal, 100% ceweq ♀, or almost 100 lah :P, tapi aku sangat amat
yakin dan merasa kalo aku perempuan dan I’m
truly straight as a she. Namun,
demikian, aku tidak pernah memandang mereka, yakni kaum yang berlabel
‘beda’ sebagai pribadi yang mengerikan ataupun aneh. Nggak bohong
kalo aku bilang bahwa aku nggak punya masalah dengan para
kaum-berlabel-beda macam yang aku sebutkan di atas. Aku punya
beberapa teman yang gay atau dkk, and I still
friends with them,
karena aku percaya ‘person is person, no matter what they do’ dan
selama kita hidup, akan banyak hal berbeda yang muncul, tergantung
bagaimana kita menyikapinya dengan open
mind,
solidaritas dan tepo
seliro.
Apa
yang aku ungkapkan di sini, apa yang aku bagi, hanya semata-mata
sebagai bahan pembelajaran atas fenomena alam yang dipandang dari
sisi perspektif yang berbeda, in my perspective and based on several
scientific information. Tidak ada unsur atau niatan untuk memancing
kekeruhan, mengintimidasi, ataupun menghakimi. Harapan dari tulisanku
ini yang ada cuma satu saja, yakni kita menjadi lebih
tahu
dan menyadari
serta menghargai atau
menghormati bahwa
perbedaan dalam manusia itu akan selalu ada. Let’s appreciate our
difference and make the world much more colorful with it!
Yeah,
that’s the fact.
Tidak,
dunia tidak gila! The
world is never being crazy!
Maybe
it’s just the creature(s) inside of it that does/do!
It
just maybe, because insanity is in people’s mind not in people’s
behaviors.
Seperti
yang GIGI, salah satu band ternama di Indonesia, katakan “Peace,
Love and Respect!”
Yup,
Kedamaian, Cinta & Kasih Sayang, dan Rasa Hormat &
Menghargai! That’s
all the matters for bringing difference in harmony.
*[KariN,
June 2008]
