bd

February 24th, 2007 by karin

Minggu.. 25 Feb 2007

almost +!.. yeah, tom. i’l b older than today.
tapi kog akhir2 ini aq trus2an ngalamin bad days mulu yah…. mana lg PMS & homesick pula.. akhirnya jadi BT +uring2an gax jelas gini… hiks…hiks…

my bad day … oh my bad days…. wish u were not here with me….. :(

teMpesT-sOLO

February 21st, 2007 by karin

Our
story from a (little) melting heaven in (little) town named Solo in the Val’s
day…

 

 

———————————————————————————————————————–

 

 

Spanduk

 






                                                    — The Tempest –

 

Rabu,
14 February 2007


Pendopo
Ageng

Taman Budaya Surakarta

———————————–

 

“Melting
Heaven dalam The Tempest… selamat menyaksikan… “

Pentas1

 
musik
tradisional memilu menyayat hati membuka pementasan kami saat itu…

kurang
lebih 400 orang penonton telah memadati Pendopo Ageng Taman Budaya Surakarta di
malam itu; Rabu 14 Feb 2007 in the Valentine’s Day ><…

 

Gugup…
cemas… harap… semangat & always Pede!…

Sebuah
pementasan yang berlangsung cukup panjang (20.15-22.30), namun tidak sepanjang
proses yang berlangsung kurang lebih 3 bulan yang dimulai di penghunjung tahun
2006 sampai dengan awal tahun 2007…

 

Teater… dengan dialog
penuh bahasa puitis… bahasa Indonesia, Thailand & English…

Pementasan teater dengan
bahasa tubuh dalam padu padan gerak tari, dan kedinamisan musik dan lirik
tradional Jawa serta ketertarikan ragam lighting, serta daya tarik dari Pendopo
sendiri..

Lega… gembira… senang
dan sedih..,

Banyak ucapan selamat
dan beberapa kritikan tajam mendarat dalam Tempest kami di “melting heaven”…

 

This is our first
project…

This is my first “big”
art project where I became the head of production…

For some in our project,
it was there first “big” project to..

 

(our)
TEMPEST is yours…

 

———————————————————————————————————————–

 

Behind the Story

 

The
Tempest adalah proyek pertama dari Melting Heaven, yang merupakan sebuah karya
seni teater hasil kolaborasi para seniman dari berbagai latar belakang budaya,
kesenian dan negara. Dalam produksi dan pementasan The Tempest, Jon
berkolaborasi dengan beberapa seniman muda dari beberapa daerah di Indonesia;
diantaranya Aceh, Padang, Bangka, Jakarta, Jogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa
Timur dan mahasiswa dari Australia, Thailand dan Serbia. Sebagian besar
pendukung karya teater ini merupakan mahasiswa/i dari ISI Surakarta dan
Jogyakarta serta mahasiswa Sastra Inggris UNS bersama beberapa seniman di
Surakarta dan Jogjakarta.

———————————————————————————————————————–

Pentas2






Synopsis

 

Kejahatanlah yang mengusir mereka,
tapi rahmat jadinya…

 

The
Tempest bercerita tentang seorang penyihir bernama Prospero yang dibuang ke
sebuah pulau terpencil oleh Antonio, saudara laki-lakinya yang haus kekuasaan.
Prospero dibuang ke pulau tersebut bersama dengan putrinya, Miranda. Selama 12
tahun mereka tinggal di pulau tersebut. Disana mereka bertemu dengan beberapa
makhluk ajaib; peri bernama Ariel dan makhluk setengah manusia setengah
binatang bernama Caliban yang kemudian menjadi “teman” dan “budak” mereka. Atas
keinginan Sang Nasib, maka suatu hari kapal yang mengangkut rombongan Ratu
Napoli melewati pulau Prospero. Dalam kapal itu terdapat Ratu Napoli; Alonso beserta putranya
Ferdinand, Sebastian (saudara ratu), Gonzalo (penasehat ratu), Antonio,
Francesca (bangsawan) beserta Trinculo, badut kerajaan, dan Stephano seorang
pemabuk, serta mualim dan beberapa kru kapal. Dengan kekuatan ilmu sihir
Prospero dan dengan bantuan Ariel maka terciptalah badai maha dasyat yang
mendamparkan kapal yang ditumpangi oleh Ratu Napoli beserta para pengiringnya.
Para penumpang kapal tersebut kemudian terdampar ke pulau Prospero dan menemukan
serta merasakan sebuah ”dunia baru”.

 

———————————————————————————————————————–

Director’s Profile

Jonathan
Lim atau lebih dikenal sebagai Jon Lim lahir di
Washington D.C.
pada tanggal
6
September 1983
. Ia belajar Teater dan Sastra
Jerman di
University of Michigan.
Sebelum ke Indonesia Jon pernah bekerja di Beijing University Theater Research
Institute dan Lin Zhao Hua Theater Studio dengan Director Lin Zhao Hua selama
lima
bulan.
Pada tahun 2006 Jon datang ke
Indonesia untuk belajar di ISI Surakarta,
ia memperoleh beasiswa
Dharmasiswa dan sedang menempuh pendidikan tari di ISI-Solo.
“The Tempest” merupakan karya teater perdananya
dimana ia menjadi sutradara. Sebagai
sutradara Jon menghargai semua pemain dan kru yang ikut terlibat dalam The
Tempest.

 

———————————————————————————————————————–

Melting Heaven

Nama Melting Heaven diambil dari teks salah satu tokoh dalam cerita
“Doctor Faustus” karangan Christopher Marlowe. Tokoh yang dimaksud adalah
Icarus, figur dalam mitos Yunani yang digambarkan memiliki sepasang sayap
berasal dari lilin. Dikisahkan, suatu hari Icarus menghiraukan larangan ayahnya
untuk tidak mendekati matahari karena keinginannya yang besar untuk melihat
keindahan matahari dari dekat. Ketika Icarus mendekati matahari, sayapnya
meleleh dan iapun jatuh ke laut. Lebih
lanjut, disebutkan “he approached melting
heaven
," yang mengacu kepada Icarus. Namun maknanya ambigu dan tidak
jelas, apakah Icarus yang melelehkan surga atau surga yang melelehkan
Icarus. Seperti Icarus, di dalam karya
teater, sutradara, aktor maupun pendukung karya teater dan bahkan penonton
sekalipun harus berani untuk mencapai keinginan dan cita-cita mereka. Karena
dalam cerita Doctor Faustus, Marlowe secara halus menyatakan bahwa sebenarnya
hal-hal yang luar biasa pun akan mampu tercapai.

———————————————————————————————————————–


Crew & Cast…

Personnel:

-
Sutradara : Jon Lim

- Produser :
Kartini Hardjosuwignyo

- Asisten Produser :
Ike Rachmaniati R.

- Koord. Publikasi :
Wira Hadisurya

- Grafis desainer : Yudi Sastroredjo & Farkhat Fikriyan

-
Stage Manager : Retno Sayekti Lawu

- Penata Lampu :
Tria Vita HD.

- Penata Artistik:

  Bambang,Wike,Robi,Wahyudi,Supri,Popo,Turah,Agung, Agung S

- Penata Musik :
Jumari, Cahyo, Eko Kodok, Dian Tri Arini

- Perlengkapan :
TBS’s Crews

- Costume :
Mario Milakovic

- Dokumentasi :
RM. Suryo Anggoro

 

Pendukung Lakon:

o Prospero :
Ni Kadek Yulia Puspasari

o Miranda :
Vita Dewi Raras Asianti

o Ariel :
Ronnarong Khampha & Alfira O’Sullivan

o Caliban :
Ali Sukri

o Ferdinand :
Niki Dwi Permadi

o Antonio :
Niko Eka Kresna

o Sebastian :
Eskha Dody Pratomo

o Alonso :
Meria Eliza

o Francesca :
Ike Rahmaniati R

o Gonzalo :
Didik Panji

o Stephano :
Januar Arifin

o Trinculo :
Albertus Agung Yuwono

o Mualim :
Wira Hadisurya

———————————————————————————————————————–

 

Thanks to…

- Tuhan Yang Maha
Pengasih

- Ruth Michell, Doreen Sterling, Kent Lim, Ben
Smith, Sarah Lim, Abigail Smith

- Kepala Taman Budaya
Jawa Tengah di Surakarta beserta staffs

- Bp. Hanindawan

- Sen
Hea Ha, Rianto, Kak Tintun, Bang Murtala

- Mas
Pamardi

- Mas Seno &
keluarga Kraton Inggris - Solo

- Hristina & Wisnu,
Janet Shier, Katherine Mendeloff

- Eyang Tarno &
Eyang Tari 

- Lia (ED.02-UNS), Mas
Agung & Circum

- Disparta-PemKot
Surakarta, Tatv, Radio Prambors Solo

- Rekan – rekan pers

- Semua pihak, kerabat,
kawan dan sahabat yang telah mendukung
& membantu bagi  terselenggaranya
pementasan ini.

 

 

Contact
Person

Kartini Hardjosuwignyo
(Karin)

Email: karin@uns.ac.id / luweyamaem@yahoo.co.uk

LivIn La vida Loca?

January 3rd, 2007 by karin

“Genius
is 1 percent inspiration and 99 percent perspiration” à that’s what (Thomas Alfa) Edison said… ??

 

Oh
Edison, I wanna kill myself for not being 100
percent…!!!!!!!!

 

I
Hate mYSelf (for NOT being GOod)… I Hate MyLife (for NOT being just TOo GOod)…
I HatE MyWoLd (for NOT being TOo DaMn GOod)… I think I just cannot stop the
hate disease. … ><

But,
however, I am TOo MuCh CraZy in LOve with the un-perfectness of every single
thing in ME!

 

Quando… oh… quando… When… oh
wHen…

Sometimes, I just feel so
empty…

Sometimes, I just get so full…

 

Bagai
telur di ujung tanduk… hidup segan, mati tak mau… dan besar pasak daripada
tiang. Sehingga membuat aku berteriak… Aku Tidak Koma!

 

Menangis…
merenung… tapi tak terlintas kata dan rasa penyesalan. (katanya) kebanyakan
orang lebih menyesal tentang apa yang nggak mereka lakukan, bukannya apa yang
telah mereka lakukan tapi ujung-ujungnya salah atau gagal. Jadi apakah benar
banyak manusia yang tidak menyesali “nasi telah menjadi bubur”, karena mereka
lebih menyesali “padi tidak jadi nasi” .. hmm, apakah benar?

 

PunyaKeyakinan/ThinkBig/Kreatif/TakeAction/NggakCepatPuas/TahanBanting/PekerjaKeras/UpToDate/LearningByDoing/Proffesional…
merupakan beberapa kriteria yang (katanya sebuah majalah) merupakan kriteria
untuk menjadi seorang millionaire (I think it’s a different way to get rich
beside join the quiz of who wants to be a Millionaire?).. tapi seorang
millionaire di mata Karin saat ini bukanlah seorang manusia kaya raya akan uang
& materi, tapi lebih kepada millionaire of life treasure. Karena in my
opinion, kriteria-kriteria yang ada di atas merupakan beberapa hal-hal (utama)
yang harus dipunyai oleh manusia untuk keep survive di dunia… to get what we
need and what we want.

So,
are you the next Millionaire? Just try to think out of the box!

 

Sometimes, I just feel so
empty…

Sometimes, I just get so full…

Other times, I just feel so
numb!

LessOn iN Life

December 28th, 2006 by karin

En palabras simples y comunes yo te extraño
En lenguaje terrenal mi vida eres tu
En total simplicidad seria yo te amo…

In simple and common
words, I am strange to you
In eternal language; my life is yours
Altogether serious simplicity I love to you….

 

Dalam kata-kata sederhana dan biasa, aku sesuatu
yang aneh untukmu

Dalam bahasa abadi, hidupku milikmu

Semuanya, kesederhanaan yang serius aku
menyanyangi mu….

 

(seharusnya ada satu
versi lagi; in Javanese… but I just lose my KamusJawa =P )

 

—————————————————————————————————

Simply people can “forget” their significant aims (in live)…
sometimes, indirectly.

—————————————————————————————————

 

Waktu TK, aku
belajar membaca.. menulis… dan mengaji…

 

Aku inget dulu,
ketika itu umur aku masih belum mencapai angka 10 tahun.. di SD ibu (sempat) memasukkan
aku ke sanggar tari Jawa.. (tapi tidak bertahan lama, karena susah sekali bagiku
untuk menjadi “lemah gemulai”).
Bye-bye
traditional Javanese dances.

 

SMP? Sempet ikut
kelas renang.. walaupun cukup singkat, ternyata cukup berhasil. Buktinya aku mampu
menguasai satu gaya renang (dan satu-satunya gaya renang yang aku bisa), yaitu
“stone style” aka gaya batu… hehehe. Dan aplikasi itu sering aku pakai ketika
aku berenang ma adik-adik sepupu aku yang notabenenenya masih dalam level
“balita”. Pas kami berenang bareng di private pool di tempat tante aq (kolam
renang umum? Gax banget :p), my stone style (tentunya dengan sedikit modifikasi
sesuai fungsi) berhasil menyelamatkan posisi aku sebagai “mbak” terbaik as
pool-bodyguard-in-the-pool-for-babies! Hehehe.

 

Trus, pas SMA
dulu aku pernah ikut (lumayan) banyak kursus & les.. salah satunya
adalah les gitar klasik. Well, privat di rumah ternyata malah lebih berat. Saingan
aku cuman adik aku… tapi guru les aku jadi lebih getol bikin kami “capek”
dengan not balok, ketukan, itungan, dan pemahaman nada (mana bukunya b’tuliskan
huruf Kanji..
uh Japanese style).. udah gitu My Dad really push me in
practicing, kalo perlu latihan yang getol juga. Aku hampir nangis waktu latihan akord “F”… jari jemari ampe pada keriting
12 gitu.. dan Dulu aku juga
pernah nyoba kursus di LIA (karena banyak temen aku yang les di LIA). Tes
masuk, hasilnya aku langsung dapet di kelas Basic 3.. sip! Trus cuman bertahan
ampe kelas intermediate sekian… eh aku udh bosen.. tamat dech..

Tapi itu dulu….

 

Pas di level
mahasiswa, aku belajar banyak.
Press. Film.
Teater. Masak. Maen Band. KarOkean.. Siaran radio ampe Komputer, dll. Tapi bedanya di universitas aku
belajar banyak hal gak lewat kursus.
Kecuali 1, untuk kelas bahasa
Spanyol. (I really miss my
Espanola Class…). Bahasa beda planet emang susah dicerna, tapi dan cuman seru
aja!

 

So, the point is… pisau emang bakal tumpul kalo gax diasah.
Ilmu bakalan basi kalo gax dipakai… nasi bakal jadi bubur kalo dimasak? (pake
air dan sedikit bumbu.. plus macam2 isi, biar jadi bubur ayam.. hehehe)

 

Simply people can “forget” their aims (in live)… sometimes,
indirectly.

 

Males, bosen, capek… bahkan lupa dan gax sempet merupakan
beberapa alasan yang bikin “manusia” berhenti (sejenak) untuk belajar.

 

Belajar. Study. Sinau. Estudiante… sekolah, kuliah, kursus, otodidak…
apapun istilah harfiah yang ada bagi deskripsi “pembelajaran”, semuanya mengacu
kepada satu hal… “jadi lebih baik lagi”…

Les bahasa Inggris kan biar bisa berbahasa Inggris dengan baik…

Belajar mengaji biar bisa ngerti al-quran…

Privat gitar klasik supaya bisa bermain musik yang bener…

Etc.. dan lain-lain.

 

In simple and common
words, I am strange to you
In eternal language; my life is yours
Altogether serious simplicity I love to you….

But I still can forget
and neglect you, sometimes, indirectly.

 

 

Aku sungguh sayang
kamu, wahai bahan pembelajaran aku…,

aku memang aneh bagimu

Hidupku adalah milikmu

Aku sayang kamu,
sungguh….

Tapi, (maaf) aku
terkadang melupakan dan mengabaikan kamu, kadang-kadang, secara gax langsung.

 

Cinta bisa tumbuh
dan berkembang, bahkan juga bisa menghilang karena memudar…

Ilmu bisa
dipelajari, dipahami dan berkembang, bahkan juga bisa menghilang dan memudar
dikarenakan “amnesia” yang berkepanjangan..

 

Life is about choice, so just make some decisions,
wisely!

LessOn iN Life

December 28th, 2006 by karin

En palabras simples y comunes yo te extraño
En lenguaje terrenal mi vida eres tu
En total simplicidad seria yo te amo…

In simple and common
words, I am strange to you
In eternal language; my life is yours
Altogether serious simplicity I love to you….

 

Dalam kata-kata sederhana dan biasa, aku sesuatu
yang aneh untukmu

Dalam bahasa abadi, hidupku milikmu

Semuanya, kesederhanaan yang serius aku
menyanyangi mu….

 

(seharusnya ada satu
versi lagi; in Javanese… but I just lose my KamusJawa =P )

 

—————————————————————————————————

Simply people can “forget” their significant aims (in live)…
sometimes, indirectly.

—————————————————————————————————

 

Waktu TK, aku
belajar membaca.. menulis… dan mengaji…

 

Aku inget dulu,
ketika itu umur aku masih belum mencapai angka 10 tahun.. di SD ibu (sempat) memasukkan
aku ke sanggar tari Jawa.. (tapi tidak bertahan lama, karena susah sekali bagiku
untuk menjadi “lemah gemulai”).
Bye-bye
traditional Javanese dances.

 

SMP? Sempet ikut
kelas renang.. walaupun cukup singkat, ternyata cukup berhasil. Buktinya aku mampu
menguasai satu gaya renang (dan satu-satunya gaya renang yang aku bisa), yaitu
“stone style” aka gaya batu… hehehe. Dan aplikasi itu sering aku pakai ketika
aku berenang ma adik-adik sepupu aku yang notabenenenya masih dalam level
“balita”. Pas kami berenang bareng di private pool di tempat tante aq (kolam
renang umum? Gax banget :p), my stone style (tentunya dengan sedikit modifikasi
sesuai fungsi) berhasil menyelamatkan posisi aku sebagai “mbak” terbaik as
pool-bodyguard-in-the-pool-for-babies! Hehehe.

 

Trus, pas SMA
dulu aku pernah ikut (lumayan) banyak kursus & les.. salah satunya
adalah les gitar klasik. Well, privat di rumah ternyata malah lebih berat. Saingan
aku cuman adik aku… tapi guru les aku jadi lebih getol bikin kami “capek”
dengan not balok, ketukan, itungan, dan pemahaman nada (mana bukunya b’tuliskan
huruf Kanji..
uh Japanese style).. udah gitu My Dad really push me in
practicing, kalo perlu latihan yang getol juga. Aku hampir nangis waktu latihan akord “F”… jari jemari ampe pada keriting
12 gitu.. dan Dulu aku juga
pernah nyoba kursus di LIA (karena banyak temen aku yang les di LIA). Tes
masuk, hasilnya aku langsung dapet di kelas Basic 3.. sip! Trus cuman bertahan
ampe kelas intermediate sekian… eh aku udh bosen.. tamat dech..

Tapi itu dulu….

 

Pas di level
mahasiswa, aku belajar banyak.
Press. Film.
Teater. Masak. Maen Band. KarOkean.. Siaran radio ampe Komputer, dll. Tapi bedanya di universitas aku
belajar banyak hal gak lewat kursus.
Kecuali 1, untuk kelas bahasa
Spanyol. (I really miss my
Espanola Class…). Bahasa beda planet emang susah dicerna, tapi dan cuman seru
aja!

 

So, the point is… pisau emang bakal tumpul kalo gax diasah.
Ilmu bakalan basi kalo gax dipakai… nasi bakal jadi bubur kalo dimasak? (pake
air dan sedikit bumbu.. plus macam2 isi, biar jadi bubur ayam.. hehehe)

 

Simply people can “forget” their aims (in live)… sometimes,
indirectly.

 

Males, bosen, capek… bahkan lupa dan gax sempet merupakan
beberapa alasan yang bikin “manusia” berhenti (sejenak) untuk belajar.

 

Belajar. Study. Sinau. Estudiante… sekolah, kuliah, kursus, otodidak…
apapun istilah harfiah yang ada bagi deskripsi “pembelajaran”, semuanya mengacu
kepada satu hal… “jadi lebih baik lagi”…

Les bahasa Inggris kan biar bisa berbahasa Inggris dengan baik…

Belajar mengaji biar bisa ngerti al-quran…

Privat gitar klasik supaya bisa bermain musik yang bener…

Etc.. dan lain-lain.

 

In simple and common
words, I am strange to you
In eternal language; my life is yours
Altogether serious simplicity I love to you….

But I still can forget
and neglect you, sometimes, indirectly.

 

 

Aku sungguh sayang
kamu, wahai bahan pembelajaran aku…,

aku memang aneh bagimu

Hidupku adalah milikmu

Aku sayang kamu,
sungguh….

Tapi, (maaf) aku
terkadang melupakan dan mengabaikan kamu, kadang-kadang, secara gax langsung.

 

Cinta bisa tumbuh
dan berkembang, bahkan juga bisa menghilang karena memudar…

Ilmu bisa
dipelajari, dipahami dan berkembang, bahkan juga bisa menghilang dan memudar
dikarenakan “amnesia” yang berkepanjangan..

 

Life is about choice, so just make some decisions,
wisely!

stOrY of poEtrY

November 23rd, 2006 by karin

Last night I just can’t sleep early… after
finish my works, I just remember that I wanna do something. That is writing!

 

Hmm… udah lama banget aku gax nulis, I mean
selain nulis skripsi dan nulis2 hal2 standard yang lain. Sebenernya aku pengin
banget bisa punya … nulis & publish my own books. Tapi kayaknya untuk
saat ini masih sekedar impian di dunia mimpi dech J. Yeah, maybe someday I can make it. I have
written some (yang sebagian besar masih teronggok rapi di gudang ide @my
computer). Let me see what I have there on my writing database… Di situ ada
beberapa artikel tulisan lepas, ada 1 novel yang belom tamat, sedikit lirik2
lagu yang pernah aku bikin (yang selain ada di gudang ide @my PC, juga
tersebar di notes dan di Hp aq), cerita2 kehidupan beserta curahan kritik dan
saran terhadap dunia di diary berformat word, dan ada banyak puisi.

 

Well, sebagai anak linguistik yang masih
berjuang untuk mengesahkan kevalidan label linguistiknya, aku tidak terlalu bisa
over productive dalam “mentransfer” berbagai files ide ke dalam wujud bahasa.

Tapi I’m enjoying to produce writing stuffs.
Simply, I just do it when I really have time and have the “feeling”.

Writing is fun, simpler than speaking,
sometimes. On writing we can express our feeling more in narrative way, bahkan
kalo mau bisa di+ unsur descriptive unique lewat beragam images… eh yang ini
cuman salah satu teori aku aja sech, ngarang banget yah? hehehe.

 

Have I told you, that among my writings, the
biggest amount refers to poetry?

Poetry or poem… in Indonesian language known
as “Puisi”…

Puisi aku bukan puisi yang unik sok menarik,
tapi bukan pula yang pasaran, mungkin lebih tepat kalo dibilang puisi yang
bercirikan KariNisme. KariNisme itu salah satu aliran gax jelas yang terdapat
dalam unsur tata kehidupan aku (baca KariN)… lebih dari 50% unsur dalam aliran
tersebut terdiri dari element Ae (baca aneh).. hehehe.

Puisi yang aku bikin biasanya tidak jauh
dari “tontonan” aku di dunia. Dari mulai soal makanan, perasaan, sampe intrik2
kehidupan tingkat tinggi aku coba cover via puisi. Bahasa yang coba aku pakai
juga lumayan beragam, dari my mother tongue (Bhs Indonesia), English, Spanish, sedikit Bhs Prancis dan
Japanese. Sebenernya aku pengin banget bikin puisi dalam bahasa Jawa, tapi
masih blom kesampean karena aku belom punya ide yang bisa aku konsultasikan
sama sang Eyang aku… but I will have to do it, someday. Absolutely!

 

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk
“mempublish” salah satu tulisan aku. Sebelomnya ada beberapa teman yang minta
& mo coba baca2 tulisan aku, tapi mereka gax ada yang aku kasih, abis aku
belom berani. It just.. I just feel I can’t… Tp, thanks to Vanessa Mae’s song
“Bach Street Prelude” (that’s one
of my fav. Classic songs now), aku jadi tergugah untuk naruh salah satu karya
aliran KariNisme aku. At least, some people maybe would be very kind to share
their time to read it and then perhaps to give some comments for helping me
out.

 

‘BeaUtifuL sTupidiTY’ tells us about … ?

Just (try to) figure it by yourself J

 

Slamat MencerNa…

- - Beautiful Stupidity - -

KariN

[Nov 23/ /2006]

 

Sometimes,
people speak non-sense…

Human
just do stupid things, in other times…

X
& Y, male and females, animal gather with plants…

In
the world, we just stuck with some of our human plans.

 

Lights
will guide me home.

Which
home?…

What
light?…

Don’t
worry, lights will always guide me home…

I
will go by lights in my heart home.

 

Beauty
is on the eyes of beholder…

Stupidity
is on the hands of actor…

Beautiful
stupidity is on the taste of nonfigurative feelings…

 

With
our human plans and with our light in our heart home…

We
would smile and cry when we take them away.

 

Beautiful…

Stupid…

My
naive beautiful stupidity is keeping me alive.

 

 

————————————————**————————————————-

——————————————————————————————————————————————————————————

*Aneh itu tidak biasa, Aneh itu tidak
berarti jelek, bukan juga berarti bagus… apalagi berarti keren. Tapi aneh itu
lebih berarti lagi bila itu mampu menstimulan kita untuk menciptakan “KeAnehan”
yang bermutu tapi tidak wagu.

!Being different as much as being unique and
productive!

 

Hmm.. that’s what frieNDs r 4?

November 19th, 2006 by karin

5 Ways to Develop Friendships That Really Count
(taken from Cindy Shaw’s)

Friend is such a powerful word that holds so many different meanings:
confidant, collaborator, instigator, and the person who helps carry you through
difficult experiences and celebrates and enriches the good ones.

As
said by Emily Dickinson, “My friends are my estate.”

How
then do we develop friendships that nurture our spirit and enrich our lives?

By
following these 5 guidelines you can begin developing friendships that will
uplift and inspire you.

1) Be Open Minded
One of the keys to developing a close friendship with someone is to be
accepting of the other person by making an effort to understand where they are
coming from. Since we each have a different set of beliefs and values and live
life in our own unique way, we can always learn something of value from our
friends.

Being
open minded requires that we drop our judgements in favor of understanding.
Although you may not agree with someone or their point of view, you can always
make an effort to understand them.

2) Be a Good Listener
This is a skill few people have developed well. One thing we all need to
remember is that we have two ears that were meant for listening. Too often we
are too busy talking or thinking up our response, that we don’t truly listen to
what someone else is really saying.

When
we actively listen to someone else, we make that person feel important and
special – two ingredients to maintaining a healthy friendship.

3) Be Trustworthy
Trust is a key ingredient to any strong and healthy relationship. When we keep
confidences, are impeccable with our word and walk our talk, we send others the
message that we are reliable, dependable and ultimately trustworthy.

Speak
with integrity and only say what you mean. Avoid gossip or talking about others
and always do what you say. Taking these actions will speak loudly to others
that you are a trustworthy and responsible friend.

4) Be Yourself
One of the greatest gifts you can give yourself and others is you – the
authentic YOU. There is only one of you in this world, complete with your own
gifts, talents and treasures. Your uniqueness is what makes you special and
what others will seek out.

When
you are honest with yourself, you can be honest with others. By being authentic,
you will show your friends that you are not afraid to be who you are and in
part will give them permission to be fully who they are.

5) Set Limits
As with anything in life, it is important to set limits as to what you will and
will not accept in your life. This may mean ending a negative conversation with
a friend or saying ‘no.’ Ultimately, setting limits is an act of self-respect.

When
you set limits with friends, you are sending a loud message that you will not
tolerate things that are not aligned with your life or your spirit. By openly
respecting yourself, others will gain a deeper respect for you.

Well, FYI, being a friend… getting more friends…or likely have a SimPLe FrieND & FrieNdshIp.. is just not being simPLE. Yeah, i meaN things wrItteN bY Shaw mungkIN bs dijadiin "enLighmenT" dikiT kaLI Yah…. To be HonesT, aku juGa bLOm bs sepeNUhnYa "Jadi" that gOod in deveLoping friendshIp. Tp, i guess, the PoinT is… "Be there whEn mY frieNDs neeD me, esp. iN a nOt verY gOod situatiOn!".. Hmm, that’s what frieNds r 4… TrueLY.. :-)
 

 

i woULd … that

October 4th, 2006 by karin
"That I Would Be Good"

...that I would be good even if I did nothing
...that I would be good even if I got the thumbs down
...that I would be good if I got and stayed sick
...that I would be good even if I gained ten pounds

...that I would be fine even if I went bankrupt
...that I would be good if I lost my hair and my youth
...that I would be great if I was no longer queen
...that I would be grand if I was not all knowing

...that I would be loved even when I numb myself
...that I would be good even when I am overwhelmed
...that I would be loved even when I was fuming
...that I would be good even if I was clingy

...that I would be good even if I lost sanity
...that I would be good
whether with or without you

[alanisMorrisette/]

Being my self... nOt my (own) sLave.. i'll (try) to be gOod 

karIN (nO) La bULUxa

September 21st, 2006 by karin

(Jangan) panggiL aku.. La BuLUxa…

aMOng mY stUffs… diantara semua barang2 personaL aku.. aDa 2 iteMs Yg i Love the mOst tiLL deaTh do Us aPPart… hehehe

1. Red chapucOne ChapUcOne..
Jaket b’tOpi warNa meraH.. Yg suDah bULuk; sebuLuk-buLUknYa. BeLinYa udaH b’taOn-taOn Yang LampaU. Ketika aku masih Les ToefL.. masa2 seRu2nYa jadI Mahasiswi barU… Ampe skrG maSa2 seRu2nYa Hampir Gax Lagi Jadi maHasiswi, aku juGa masiH serING banGET pake iTU JakEt. Sampe2 TemeN2 aku sebEL banGet ma Itu JakET, They waNNa gEt rid oF mY JackeT.. Pd pengeN buanG iTU jakeT, tp pd Gax bs. Jadi kLO suaTU saaT Nanti, mY beLOved reD jackeT gOne, maYbe bcOs mY frieNDs jusT can’t sTand it to see that Thing anymore,hehehe.
PdahaL sTOck Jaket aq Jg LumaYan banYak. But, i juZ to daMn in LOve wiTh tHat reD one, MungkIn aku akan memPensiunkannYa kEtika aku sudaH benar2 tidak Jadi Mahasiswi Lagi. MaYbe…

2. BLack Bag made in Export!.
Hmm.. taLking abOUt this sTuFF. Jadi inGEt jaman dULU banGEt. The 1st time i got mY paRT-timer JOb. Yeah, aku beLinYa pake dUIt senDiri. HasiL kerinGat aku senDiri (wLOPuN Gax BNer2 kErinGat waKtu iTU.. hehe).
Hi, Luchu JUga kLO ingET beTaPa senEngnYa aku wakTU itu. SeteLah NUnggU 1 bULan.. TRus aBIz iTU isenG jaLan ke 1 of the Bigest MaLL in sOLO, TRus Gax taUnYa mLh "dapET" iTU Tas.
SekaraNG, sudaH b’taOn.. sudaH (agax) bULuk puLa… taPi, once aGain.. i juZ tO daMn in LOve witH that Bag. Lagian iTU Tas LumaYan "gede" bwT meNamPUng smUa aLat pEraNg aku. Jadi, juz inCase i sTUck.. cannot find waY home.. aku kaYaknYa bakaL bs b’taHan. KareNa "bekaL HidUP" udaH T’taMPung @My baG! WLopun,gax sLaLU kOmplIT. BUt, 1x Lagi.. i juz tooo daMn crazY in Love wiTh MY Bag. kLO Yg ini gax taU kaPaN diPensiunkan. NunggU saNg peNgganTi dataNG dLU kaLI.. hihihi.

OveraLL, those twO things are the trUe frIeNDs .. soULmate-aLIked oF mINe.
UntungnYa Eyang aku gax reWeL.. UntungnYa Ibu ma Bapak gax disinI.. UntungnYa para krItikus seJati aku gax sEMuanYa disiNI.. Dan UntungnYa LaGi situasi daN kOndisi masiH meMberi PengertiaN bagi aku….

rEd & BLack unIted as ONE!

JUz LOve The waY theY are.

JUz sIMPLY be siMPLIfiEd i aM ….

September 13th, 2006 by karin

Whatever women do, they must do twice as well as men, to be thought half as good.
Luckily this is not difficult!!

Viva el equality para female en vida…