Our
story from a (little) melting heaven in (little) town named Solo in the Val’s
day…
———————————————————————————————————————–
— The Tempest –
Rabu,
14 February 2007
Pendopo
Ageng
Taman Budaya Surakarta
———————————–
“Melting
Heaven dalam The Tempest… selamat menyaksikan… “
musik
tradisional memilu menyayat hati membuka pementasan kami saat itu…
kurang
lebih 400 orang penonton telah memadati Pendopo Ageng Taman Budaya Surakarta di
malam itu; Rabu 14 Feb 2007 in the Valentine’s Day ><…
Gugup…
cemas… harap… semangat & always Pede!…
Sebuah
pementasan yang berlangsung cukup panjang (20.15-22.30), namun tidak sepanjang
proses yang berlangsung kurang lebih 3 bulan yang dimulai di penghunjung tahun
2006 sampai dengan awal tahun 2007…
Teater… dengan dialog
penuh bahasa puitis… bahasa Indonesia, Thailand & English…
Pementasan teater dengan
bahasa tubuh dalam padu padan gerak tari, dan kedinamisan musik dan lirik
tradional Jawa serta ketertarikan ragam lighting, serta daya tarik dari Pendopo
sendiri..
Lega… gembira… senang
dan sedih..,
Banyak ucapan selamat
dan beberapa kritikan tajam mendarat dalam Tempest kami di “melting heaven”…
This is our first
project…
This is my first “big”
art project where I became the head of production…
For some in our project,
it was there first “big” project to..
(our)
TEMPEST is yours…
———————————————————————————————————————–
Behind the Story
The
Tempest adalah proyek pertama dari Melting Heaven, yang merupakan sebuah karya
seni teater hasil kolaborasi para seniman dari berbagai latar belakang budaya,
kesenian dan negara. Dalam produksi dan pementasan The Tempest, Jon
berkolaborasi dengan beberapa seniman muda dari beberapa daerah di Indonesia;
diantaranya Aceh, Padang, Bangka, Jakarta, Jogyakarta, Jawa Tengah dan Jawa
Timur dan mahasiswa dari Australia, Thailand dan Serbia. Sebagian besar
pendukung karya teater ini merupakan mahasiswa/i dari ISI Surakarta dan
Jogyakarta serta mahasiswa Sastra Inggris UNS bersama beberapa seniman di Surakarta dan Jogjakarta.
———————————————————————————————————————–

Synopsis
Kejahatanlah yang mengusir mereka,
tapi rahmat jadinya…
The
Tempest bercerita tentang seorang penyihir bernama Prospero yang dibuang ke
sebuah pulau terpencil oleh Antonio, saudara laki-lakinya yang haus kekuasaan.
Prospero dibuang ke pulau tersebut bersama dengan putrinya, Miranda. Selama 12
tahun mereka tinggal di pulau tersebut. Disana mereka bertemu dengan beberapa
makhluk ajaib; peri bernama Ariel dan makhluk setengah manusia setengah
binatang bernama Caliban yang kemudian menjadi “teman” dan “budak” mereka. Atas
keinginan Sang Nasib, maka suatu hari kapal yang mengangkut rombongan Ratu Napoli melewati pulau Prospero. Dalam kapal itu terdapat Ratu Napoli; Alonso beserta putranya
Ferdinand, Sebastian (saudara ratu), Gonzalo (penasehat ratu), Antonio,
Francesca (bangsawan) beserta Trinculo, badut kerajaan, dan Stephano seorang
pemabuk, serta mualim dan beberapa kru kapal. Dengan kekuatan ilmu sihir
Prospero dan dengan bantuan Ariel maka terciptalah badai maha dasyat yang
mendamparkan kapal yang ditumpangi oleh Ratu Napoli beserta para pengiringnya. Para penumpang kapal tersebut kemudian terdampar ke pulau Prospero dan menemukan
serta merasakan sebuah ”dunia baru”.
———————————————————————————————————————–
Director’s Profile
Jonathan
Lim atau lebih dikenal sebagai Jon Lim lahir di Washington D.C.
pada tanggal 6
September 1983. Ia belajar Teater dan Sastra
Jerman di University of Michigan.
Sebelum ke Indonesia Jon pernah bekerja di Beijing University Theater Research
Institute dan Lin Zhao Hua Theater Studio dengan Director Lin Zhao Hua selama lima
bulan. Pada tahun 2006 Jon datang ke
Indonesia untuk belajar di ISI Surakarta, ia memperoleh beasiswa
Dharmasiswa dan sedang menempuh pendidikan tari di ISI-Solo. “The Tempest” merupakan karya teater perdananya
dimana ia menjadi sutradara. Sebagai
sutradara Jon menghargai semua pemain dan kru yang ikut terlibat dalam The
Tempest.
———————————————————————————————————————–
Melting Heaven
Nama Melting Heaven diambil dari teks salah satu tokoh dalam cerita
“Doctor Faustus” karangan Christopher Marlowe. Tokoh yang dimaksud adalah
Icarus, figur dalam mitos Yunani yang digambarkan memiliki sepasang sayap
berasal dari lilin. Dikisahkan, suatu hari Icarus menghiraukan larangan ayahnya
untuk tidak mendekati matahari karena keinginannya yang besar untuk melihat
keindahan matahari dari dekat. Ketika Icarus mendekati matahari, sayapnya
meleleh dan iapun jatuh ke laut. Lebih
lanjut, disebutkan “he approached melting
heaven," yang mengacu kepada Icarus. Namun maknanya ambigu dan tidak
jelas, apakah Icarus yang melelehkan surga atau surga yang melelehkan
Icarus. Seperti Icarus, di dalam karya
teater, sutradara, aktor maupun pendukung karya teater dan bahkan penonton
sekalipun harus berani untuk mencapai keinginan dan cita-cita mereka. Karena
dalam cerita Doctor Faustus, Marlowe secara halus menyatakan bahwa sebenarnya
hal-hal yang luar biasa pun akan mampu tercapai.
———————————————————————————————————————–
Crew & Cast…
Personnel:
-
Sutradara : Jon Lim
- Produser :
Kartini Hardjosuwignyo
- Asisten Produser :
Ike Rachmaniati R.
- Koord. Publikasi :
Wira Hadisurya
- Grafis desainer : Yudi Sastroredjo & Farkhat Fikriyan
-
Stage Manager : Retno Sayekti Lawu
- Penata Lampu :
Tria Vita HD.
- Penata Artistik:
Bambang,Wike,Robi,Wahyudi,Supri,Popo,Turah,Agung, Agung S
- Penata Musik :
Jumari, Cahyo, Eko Kodok, Dian Tri Arini
- Perlengkapan :
TBS’s Crews
- Costume :
Mario Milakovic
- Dokumentasi :
RM. Suryo Anggoro
Pendukung Lakon:
o Prospero :
Ni Kadek Yulia Puspasari
o Miranda :
Vita Dewi Raras Asianti
o Ariel :
Ronnarong Khampha & Alfira O’Sullivan
o Caliban :
Ali Sukri
o Ferdinand :
Niki Dwi Permadi
o Antonio :
Niko Eka Kresna
o Sebastian :
Eskha Dody Pratomo
o Alonso :
Meria Eliza
o Francesca :
Ike Rahmaniati R
o Gonzalo :
Didik Panji
o Stephano :
Januar Arifin
o Trinculo :
Albertus Agung Yuwono
o Mualim :
Wira Hadisurya
———————————————————————————————————————–
Thanks to…
- Tuhan Yang Maha
Pengasih
- Ruth Michell, Doreen Sterling, Kent Lim, Ben
Smith, Sarah Lim, Abigail Smith
- Kepala Taman Budaya
Jawa Tengah di Surakarta beserta staffs
- Bp. Hanindawan
- Sen
Hea Ha, Rianto, Kak Tintun, Bang Murtala
- Mas
Pamardi
- Mas Seno &
keluarga Kraton Inggris - Solo
- Hristina & Wisnu,
Janet Shier, Katherine Mendeloff
- Eyang Tarno &
Eyang Tari
- Lia (ED.02-UNS), Mas
Agung & Circum
- Disparta-PemKot
Surakarta, Tatv, Radio Prambors Solo
- Rekan – rekan pers
- Semua pihak, kerabat,
kawan dan sahabat yang telah mendukung
& membantu bagi terselenggaranya
pementasan ini.
Contact
Person
Kartini Hardjosuwignyo
(Karin)
Email: karin@uns.ac.id / luweyamaem@yahoo.co.uk